Kepercayaan, Modal Terbesar Bangsa, Jembatan Penting Pemerintah Pusat dan Daerah
Negara besar tidak dibangun hanya dari istana kepresidenan melainkan dari ribuan keputusan kecil di kabupaten, kota, dan desa.
Editor:
Malvyandie Haryadi
Oleh: Azis Subekti
- Anggota DPR RI Komisi II
- Fraksi Gerindra
TRIBUNNERS - Memasuki awal tahun 2026, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, sesungguhnya tidak sedang kekurangan agenda, program, atau sumber daya.
Yang paling menentukan justru sesuatu yang sering tak tertulis dalam dokumen negara, tetapi selalu menjadi penentu arah sejarah: saling percaya.
Kepercayaan antarelemen bangsa—antara pemerintah dan rakyat, antara pusat dan daerah, antara kelompok politik yang berbeda—adalah modal paling mahal untuk memastikan sebuah negara tidak hanya bergerak, tetapi bergerak ke arah yang benar.
Sejarah banyak bangsa menunjukkan satu pelajaran sederhana: kebijakan yang tepat bisa runtuh bila dijalankan dalam iklim saling curiga.
Sebaliknya, kebijakan yang berat, tidak populer, bahkan menyakitkan dalam jangka pendek, justru bisa bertahan bila dijalankan dalam suasana saling percaya. Di titik inilah Indonesia hari ini sedang diuji.
Arah besar pemerintahan saat ini relatif terang. Negara ingin kembali hadir kuat dalam urusan-urusan strategis: pangan, energi, industri, pertahanan, dan stabilitas ekonomi.
Ini bukan langkah reaktif, melainkan kesadaran bahwa dunia sedang bergerak ke fase yang tidak ramah bagi negara yang rapuh secara internal.
Ketergantungan berlebihan pada pihak luar, pasar global, atau janji stabilitas semu adalah jalan cepat menuju krisis. Indonesia memilih jalan yang lebih berat: membangun kemandirian pelan-pelan, sambil menjaga stabilitas.
Namun, kemandirian ekonomi dan stabilitas negara tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia tumbuh dari kepercayaan bahwa kebijakan yang diambil memang ditujukan untuk kepentingan bersama, bukan untuk segelintir kelompok.
Di sinilah tantangan terbesar pemerintahan hari ini dan seterusnya: menjaga agar arah besar tidak tereduksi oleh kepentingan jangka pendek, transaksi politik, atau kebisingan yang menggerus rasa keadilan.
Banyak kebijakan hari ini menuntut kesabaran kolektif. Hilirisasi, penguatan pangan, pembenahan fiskal, hingga penataan birokrasi tidak selalu langsung terasa manfaatnya.
Dalam situasi seperti ini, saling percaya menjadi energi utama agar bangsa tidak mudah lelah dan saling menyalahkan. Tanpa kepercayaan, setiap kebijakan akan dicurigai; setiap kesalahan kecil dibesar-besarkan; dan setiap langkah koreksi dianggap kelemahan.
Kepercayaan juga menjadi jembatan penting antara pemerintah pusat dan daerah. Negara besar tidak dibangun hanya dari istana kepresidenan melainkan dari ribuan keputusan kecil di kabupaten, kota, dan desa.
Ketika pusat percaya pada daerah, dan daerah merasa dipercaya untuk mengeksekusi kebijakan dengan bertanggung jawab, maka konsistensi arah nasional akan terjaga. Sebaliknya, jika hubungan ini dipenuhi prasangka, kebijakan terbaik pun akan tersendat di lapangan.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan