Deepfake Asusila dan Krisis Kepercayaan Digital
Deepfake asusila kian marak, wajah dan suara direkayasa, ancam kepercayaan, martabat, serta rasa aman di ruang digital.
Editor:
Glery Lazuardi
Maraknya deepfake asusila menunjukkan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu berjalan seiring dengan kesiapan sosial. Forensik digital membantu membedakan yang asli dan yang palsu, sementara hukum memberi kerangka perlindungan.
Namun, krisis yang dihadapi sesungguhnya lebih mendasar. Ketika wajah dan suara dapat direkayasa tanpa batas, yang dipertaruhkan bukan hanya kebenaran visual, melainkan kepercayaan antarmanusia di ruang digital.
Tanpa kesadaran kolektif dan tanggung jawab bersama, teknologi yang menjanjikan kemudahan justru berisiko mengikis rasa aman dan martabat yang seharusnya dilindungi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan