Iran dan Seni Bertahan dalam Kepungan: Ketika Dunia Salah Membaca
Tekanan Barat kembali memuncak, namun Iran tak runtuh. Anomali ideologis, kepungan justru membentuk ketahanan strukturalnya.
Editor:
Glery Lazuardi
Namun bahkan jika faktor figur dikesampingkan, ada ilusi lama yang terus diulang: bahwa membunuh tokoh kunci sama dengan meruntuhkan rezim. Sejarah Iran justru menunjukkan sebaliknya.
Dalam berbagai eskalasi konflik, termasuk perang singkat namun intens dengan Israel, Iran telah kehilangan jenderal-jenderal senior dan ilmuwan nuklirnya melalui serangan langsung maupun operasi sabotase. Alih-alih runtuh, negara ini justru merespons dengan konsolidasi internal dan regenerasi struktural yang cepat. Posisi-posisi kunci segera terisi, rantai komando tetap berjalan, dan proyek strategis tidak berhenti.
Ini menegaskan satu hal mendasar, Iran tidak berdiri di atas satu orang. Ia adalah sistem ideologis. Figur dapat mati, jenderal dapat terbunuh, ilmuwan nuklir dapat disabotase, tetapi regenerasi terus berjalan. Sistem ini tidak dirancang untuk kenyamanan, melainkan untuk kehilangan.
Di sinilah Amerika dan Israel kerap terjebak. Mereka membaca negara seperti membaca korporasi: CEO mati, perusahaan kolaps. Padahal Iran bekerja seperti organisme ideologis. Ia hidup dari keyakinan, memori historis, dan narasi perlawanan yang diwariskan lintas generasi.
Karena itu, membandingkan Iran dengan rezim Saddam Hussein di Irak, Muammar Khadafi di Libya, atau bahkan Bashar Assad di Suriah adalah kekeliruan analitis. Rezim-rezim tersebut bertumpu pada figur, loyalitas militer, dan represi, dengan ideologi yang dangkal atau instrumental. Iran berbeda. Ideologi bukan aksesori kekuasaan, ia adalah fondasi negara.
Kini dunia berada di persimpangan. Apakah Iran akan kembali keluar dari kepungan maksimal ini, sebagaimana telah berulang kali terjadi? Ataukah tekanan kali ini benar-benar menjadi titik balik?
Sejarah Iran sejauh ini memberi satu petunjuk konsisten, setiap kali dunia mengira Iran berada di ambang runtuh, negara itu justru menemukan cara baru untuk bertahan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Iran bisa bertahan, melainkan berapa harga global yang harus dibayar jika dunia memaksa untuk mengujinya sekali lagi.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan