Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Bentrok AS-Eropa dan Bibit Baru Multipolarisme

Ketegangan AS–Eropa pasca perang Ukraina dan isu Greenland memicu peluang multipolarisme baru dalam tatanan global.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Bentrok AS-Eropa dan Bibit Baru Multipolarisme
HO/IST
AMEROP PANAS - Ketegangan AS–Eropa pasca perang Ukraina dan isu Greenland memicu peluang multipolarisme baru dalam tatanan global. 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Boy Anugerah
Penulis adalah Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015-2017/Tenaga Ahli Bidang Hubungan Internasional di DPR RI 2024-2029/Founder Senayan Geopolitical Forum (SGF)

JIKA kita mencermati dinamika geopolitik global secara saksama dalam setahun terakhir, maka akan kita temukan fakta menarik bahwa aliansi strategis Amerika Serikat (AS) dan Eropa yang terjalin sekian dekade pasca perang dingin perlahan tapi pasti mengalami kerenggangan.

Adalah inisiatif AS untuk menginisiasi perdamaian di antara Rusia dan Ukraina yang menjadi ujung pangkalnya.

Mediasi sepihak yang dilakukan oleh AS dan tidak melibatkan Eropa di dalamnya telah memantik kemarahan Eropa yang notabene terdampak langsung oleh kedua negara yang berkonflik.

Kemarahan Eropa mencapai titik kulminasi ketika AS berniat untuk menguasai Greenland yang secara hukum berada di bawah pengelolaan Kerajaan Denmark.

Seteru antara AS dan Eropa ini di satu sisi memiliki signifikansi negatif terhadap keamanan global.

Namun, di sisi lain, khususnya dalam relasi antarnegara jangka panjang, ketegangan AS dan Eropa berpotensi menjadi pemantik munculnya multipolarisme baru yang lebih jelas dan tegas, bukan berada pada titik pseudo-multipolarisme seperti yang berjalan saat ini.

Rekomendasi Untuk Anda

Ada fakta lain yang menjadi cermin nyata kemarahan Eropa terhadap AS, selain konflik Rusia-Ukraina serta niat AS menguasai Greenland. Dalam kasus pembentukan Board of Peace yang diinisiasi Donald Trump untuk Palestina, negara-negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Spanyol, Swedia, Norwegia, dan Slovenia

berada di garda depan menolak rencana pembentukan dewan perdamaian tersebut. Secara implisit, Eropa yang diwakili oleh negara-negara tersebut hendak menunjukkan kemuakannya terhadap perilaku AS yang unilateralis dan mengabaikan norma dan hukum internasional.

Lambat laun, Eropa yang sekian lama menjadi aliansi strategis AS menyadari bahwa AS hanya memikirkan kepentingan nasionalnya sendiri dan cenderung membangun simbiosis parasitisme dalam kerja samanya dengan Eropa.

Dukungan penuh Eropa dalam dua dekade terakhir terhadap kebijakan Global War on Terrorism yang dijalankan AS hanya menjadikan Eropa sebagai “sansak” serangan teroris global. Sementara itu, AS tidak membayar tunai pengorbanan Eropa, bahkan dalam bentuk dialog mutualis dan kolaboratif sekalipun.

Rasionalisasi kemarahan Eropa

Dalam kasus perang Rusia dan Uraina yang memasuki tahun keempat, Eropa sangat layak untuk murka terhadap tingkah polah AS. Pertama, Rusia dan Ukraina adalah bagian integral dari Eropa, meksipun keduanya bukan bagian dari Uni Eropa.

Sebagai bagian dari Eropa, eksistensi kedua negara secara langsung ataupun tidak telah menjadi halaman depan dan halaman belakang bagi negara-negara kawasan.

Turbulensi politik keamanan sekecil apapun akan berdampak terhadap stabilitas keamanan negara tetangga maupun kawasan secara keseluruhan.

Kedua, perang kedua negara berdampak pada putusnya rantai pasok energi dalam bentuk gas alam dari Rusia ke negara-negara Eropa yang selama ini mengalami ketergantungan.

Sebagai bentuk loyalitas kepada AS, Eropa melalui Uni Eropa telah memberlakukan embargo dan sanksi ekonomi terhadap Rusia.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas