Kosmetik Ilegal dan Luka yang Tak Terlihat
Janji cantik instan berujung luka. Kisah kosmetik ilegal yang meninggalkan flek hitam dan risiko kesehatan panjang
Editor:
Glery Lazuardi
Kisah Lucinda Salahbedak adalah fragmen dari persoalan yang lebih luas: peredaran kosmetik ilegal yang menjual harapan, tetapi meninggalkan kerusakan.
Dalam beberapa tahun terakhir, otoritas berulang kali mengungkap temuan kosmetik tanpa izin edar yang beredar luas, baik di pasar konvensional maupun di ruang digital.
Polanya nyaris seragam: klaim hasil cepat, testimoni meyakinkan, dan risiko kesehatan yang disembunyikan.
Masalah ini tidak lagi semata urusan estetika, melainkan kesehatan publik. Zat berbahaya dalam kosmetik tidak berhenti di permukaan kulit. Ia dapat masuk ke aliran darah dan memengaruhi organ tubuh lain.
Karena itu, negara hadir menjaga batas tersebut melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM)—melakukan pengawasan sebelum produk beredar, inspeksi lapangan, pengujian laboratorium berbasis sains, hingga penegakan hukum.
Pesan BPOM sesungguhnya sederhana: jangan mempertaruhkan kesehatan demi hasil instan. Izin edar bukan tentang administrasi produk, melainkan penanda bahwa sebuah produk telah melewati penilaian keamanan dan mutu.
Memeriksa kemasan, label, izin edar, dan masa kedaluwarsa adalah langkah kecil yang berdampak besar.
Namun sekuat apa pun pagar negara dibangun, ia akan rapuh jika kesadaran publik tertinggal. Pasar kosmetik ilegal tumbuh bukan semata karena kelicikan pelaku, melainkan karena permintaan.
Ketika hasil cepat lebih dipilih daripada proses aman, ketika testimoni mengalahkan sains, ruang bagi produk berbahaya akan selalu terbuka—terlebih di era media sosial, ketika filter menipu realitas dan standar cantik palsu diproduksi massal.
Merawat kecantikan sejatinya bukan tindakan gegabah. Ia adalah proses—sabar, aman, dan berkesadaran.
Kecantikan yang dipelihara dengan pengetahuan dan kehati-hatian akan bertahan lebih lama daripada kilau sesaat yang dibeli dengan risiko. Pada titik tertentu, inner beauty—ketenangan, kepercayaan diri, dan penerimaan diri—jauh lebih memesona daripada bercak yang lahir dari krim bermerkuri.
Percakapan singkat dengan Lucinda Salahbedak sore itu meninggalkan kesan mendalam. Di balik jabatan dan pencapaian politik, ada manusia yang rapuh. Ada penyesalan yang tak mudah diucapkan. Dan ada pelajaran tentang pilihan-pilihan kecil di depan cermin yang berdampak panjang bagi kesehatan dan martabat.
Cantik seharusnya tidak menyakitkan.
Dan harapan, betapapun menggoda, tidak pernah layak dibayar dengan risiko kesehatan.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan