Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Kosmetik Ilegal dan Luka yang Tak Terlihat

Janji cantik instan berujung luka. Kisah kosmetik ilegal yang meninggalkan flek hitam dan risiko kesehatan panjang

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Kosmetik Ilegal dan Luka yang Tak Terlihat
HO/IST
AKBAR ENDRA - Di balik kilau sesaat, kosmetik ilegal menyimpan bahaya: flek membandel, kulit rusak, dan penyesalan tak terhapus 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Akbar Endra
Penulis adalah Staf Ahli Kepala BPOM RI Bidang Media Sosial dan Komunikasi Publik

LUKA itu terlihat di wajahnya, tetapi sebabnya tersembunyi di balik janji cantik instan. Sebuah panggilan video sore hari membuka kisah tentang kosmetik ilegal yang meninggalkan jejak lebih panjang daripada kilau sesaat.

Suatu sore, layar ponsel saya menyala. Panggilan video masuk dari seorang politisi perempuan yang sudah lama saya kenal. Usianya melewati empat puluh tahun.

Dalam setiap pemilu, ia selalu menjadi calon legislatif prioritas dari salah satu partai besar. Wajahnya kerap hadir di baliho dan ruang publik—rapi, terawat, dan penuh keyakinan.

Di layar itu, senyum masih ada. Namun cahayanya tidak lagi sama.

Sebut saja namanya Lucinda Salahbedak.

Ia tidak menelepon untuk membicarakan peta kekuatan politik atau strategi kampanye. Percakapan itu justru bergerak ke wilayah yang jauh lebih personal.

Rekomendasi Untuk Anda

Tentang wajahnya yang tak lagi “patuh”. Tentang flek hitam yang kini hampir menutup separuh pipinya. Tentang rasa percaya diri yang perlahan menguap, meski pengaruh politik dan posisinya tetap utuh.

“Sekarang saya harus pakai bedak tebal,” katanya pelan. “Kalau cuaca panas, semuanya luntur.”

Bagi seorang politisi perempuan, wajah adalah penampilan awal, identitas dan simbol kesiapan tampil di ruang publik, dan sumber kepercayaan diri.

Ketika wajah berubah, yang goyah bukan hanya cermin, tetapi juga keyakinan pada diri sendiri.

Lucinda Salahbedak bukan perempuan yang mudah terjebak ilusi. Ia terdidik dan rasional. Namun seperti banyak perempuan lain, ia pernah tergoda janji kecantikan instan—kulit cerah dalam waktu singkat, hasil cepat tanpa proses panjang. Pada awalnya, janji itu tampak ditepati.

Kulitnya bersih dan bercahaya. Namun waktu, seperti biasa, membongkar sisi lain yang tersembunyi.

Yang tertinggal kini adalah flek hitam membandel, kulit yang semakin sensitif, dan penyesalan yang datang terlambat.

Antara Janji Instan dan Risiko Kesehatan 

Sejumlah pakar dermatologi mengingatkan, perubahan kulit akibat kosmetik berbahaya sering kali tidak muncul seketika. Zat seperti merkuri, hidrokuinon dosis tinggi, dan steroid dapat menekan mekanisme alami kulit. Dalam jangka pendek, kulit tampak cerah.

Namun dalam jangka panjang, pigmen menjadi kacau, lapisan kulit menipis, dan flek sulit ditangani. Pemulihan membutuhkan waktu lama—dan tidak selalu kembali seperti semula.

Halaman 1/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas