Indonesia Wajib Belajar dari Meksiko, Kuasa Negara Hadapi Kartel Narkoba
Tewasnya El Mencho tegaskan kuasa negara Meksiko. Indonesia perlu belajar agar tak terjerumus dalam krisis narkoba serupa.
Editor:
Glery Lazuardi

MEKSIKO bergejolak.
Pemimpin kartel Jalisco New Generation, sekaligus gembong narkoba nomor satu yang paling diburu di seantero Meksiko, Nemesio Oseguera Cervantes atau yang dikenal dengan sebutan El Mencho tewas setelah terluka dalam baku tembak dengan militer Meksiko pada hari Minggu 22 Februari lalu (Kompas, 24/2).
Tewasnya El Mencho yang sangat ditakuti oleh masyarakat Meksiko ini menahbiskan satu hal; Pemerintah Meksiko masih eksis dalam memberikan rasa aman kepada masyarakat.
Kesuksesan ini tidak terlepas dari upaya yang solid dan kolaboratif di antara intelijen militer yang mendapatkan lokasi persembunyian, serta operasi cepat yang dilakukan oleh angkatan darat dan udara Meksiko dalam melakukan penyerangan.
Tewasnya El Mencho ini mengingatkan masyarakat dunia bagaimana Pemerintah Meksiko di bawah Presiden Enrique Pena Nieto pernah berhasil menundukkan penjahat narkoba paling besar dalam sejarah Meksiko, Joaquin Guzman alias El Chapo.
El Chapo berhasil ditangkap pada 8 Januari 2016 dalam sebuah operasi rahasia yang dilakukan oleh Angkatan Laut Meksiko di kota pantai Los Mochis, di negara bagian Sinaloa. Penangkapan ini disebut sebagai pertaruhan harga diri Presiden Nieto dan aparat keamanan Meksiko setelah dua kali penangkapan El Chapo berujung pelarian diri El Chapo dari penjara.
Kuat dugaan bahwa suap, kolusi, dan korupsi yang dilakukan oleh aparat keamanan menjadi faktor yang mendukung El Chapo untuk lolos dari tahanan.
Faktor utama munculnya kartel di Meksiko
Sebagai sebuah negara, Meksiko kerap diasosiasikan dengan frasa kriminalitas, kartel, mafia, dan narkoba. Pada 2016 hingga 2017, penulis sempat mengambil kursus bahasa Spanyol di daerah Salemba, Jakarta, dan mendapatkan guru seorang warga negara Meksiko, Fabiola Reyes.
Dengan gamblang dan lugas, Fabiola menceritakan bahwa kartel narkoba adalah kejahatan paling serius yang ada di Meksiko. Kartel narkoba menjelma bukan s aja sebagai momok bagi masyarakat sipil, tapi musuh utama yang sulit untuk diberantas oleh pemerintah.
Kartel narkoba Meksiko memiliki jaringan yang luas dan berurat berakar di masyarakat Meksiko,didukung oleh penguasaan sumber daya yang besar, serta dilengkapi dengan persenjataan berat setara militer untuk menjaga keberlangsungan bisnis mereka.
Ada beberapa faktor yang membuat Meksiko menjadi sarang kartel narkoba dunia.
Sebagai sebuah negara, Meksiko berbatasan langsung dengan Amerika Serikat (AS) yang merupakan konsumen narkoba terbesar di dunia. Hal ini membuat Meksiko menjadi jalur transit utama untuk penyelundupan kokain dari Amerika Selatan, serta memproduksi narkoba sintetis dalam bentuk Fentanil dan Metamfetamin sendiri.
Kartel Meksiko juga menjelma sebagai kelompok kejahatan transnasional yang kuat dengan membangun afiliasi dengan pedagang-pedagang senjata gelap di AS untuk mempersenjatai kelompok mereka. Hampir 70 persen senjata kartel narkoba Meksiko berasal dari AS.
Senjata-senjata tersebut digunakan untuk mendukung operasional mereka, melakukan kekerasan brutal, penculikan, pembunuhan, intimidasi terhadap masyarakat, perang dengan kartel lain, termasuk melawan aparat keamanan negara.
Dari semua faktor yang ada, kesenjangan sosial dan kemiskinan, serta korupsi institusional merupakan dua persoalan mendasar mengapa kartel narkoba sulit diberantas di Meksiko.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan