Prabowo vs Trump: Bobot Berbeda, Gaya Kepemimpinan Mirip?
Trump dan Prabowo bukan saingan; mereka cermin. Yang satu lebih liar, yang satu lebih terukur—tapi keduanya sama.
Editor:
Malvyandie Haryadi
Penulis: Mandala Lima
TRIBUNNERS - Di antara badai politik dunia, Donald Trump dan Prabowo Subianto berdiri seperti dua patung perunggu yang dicor dari cetakan yang sama—sama-sama keras, sama-sama tegas, sama-sama membakar hati pendukung dengan janji kejayaan nasional.
Yang satu lahir dari gedung kaca Manhattan, yang lain dari tanah merah Jawa—bobotnya berbeda, tapi denyut nadinya mirip: anti-elit, anti-sistem, dan anti-basa-basi.
Dan di atas segalanya, keduanya mencintai power politics—bukan sekadar memegang kekuasaan, tapi memainkannya seperti catur, dengan pion-pion yang tak pernah lepas dari genggaman. Termasuk intervensi fiskal berlebihan: mereka tak ragu potong sana-sini demi agenda besar, meski risiko ekonomi mengintai.
Bahkan, keduanya sama-sama mengagumi tokoh yang mirip: Xi Jinping dan Vladimir Putin—pemimpin yang tegas, sentralisasi kuat, dan tak segan mematahkan oposisi demi stabilitas negara.
Trump pernah puji Putin sebagai “genius” dan Xi sebagai “brilliant”; Prabowo juga tak kalah—ia sebut Xi “pemimpin hebat” dan Putin “strategis”.
Mereka lihat di sana cermin diri: kuat, tak tergoyahkan, dan tak perlu banyak kata.
Trump berteriak “America First” sambil mengepalkan tangan di podium, Prabowo pernah menyisipkan “Make Indonesia Great Again” dalam orasinya yang bergema di lapangan.
Keduanya membenci deep state—Trump sudah lebih dari lima puluh enam kali berjanji “demolish” birokrasi Washington, bahkan bilang itu “cabal” yang korup.
Prabowo, lebih halus, tapi tak kalah tajam: di bukunya Paradoks Indonesia, ia sebut oligarki sebagai “penyakit bangsa”, dan dalam satu pidato, ia blak-blakan: “Saya paling takut sama birokrasi di Indonesia.”
Paradoksnya? Prabowo peluk Haji Isam—Andi Syamsuddin Arsyad—sang raja tambang pribumi yang katanya donatur besar kampanyenya.
Meski angka “triliunan rupiah” masih rumor dan belum terverifikasi resmi oleh KPU, dukungannya jelas: bisnisnya jadi penyangga visi ekonomi Prabowo, dari tambang sampai food estate.
Orang-orang dekatnya masuk kabinet Prabowo. Trump pun begitu. Ia sering nyinyir oligarki, tapi sangat patuh pada Miriam dan Sheldon Adelson—pasangan Yahudi yang sumbang 250 juta dolar AS untuk kampanyenya.
Banyak yang menduga, apa pun maunya mereka berdua, Trump akan ikut: dukungan ekstrem ke Israel, membiarkan puluhan ribu nyawa Gaza hilang di tangan tentara Israel, bahkan kemungkinan membiarkan Netanyahu serang Iran—semua tak lepas dari bayang-bayang donatur itu. Power politics, bukan idealisme.
Keduanya juga mainkan kartu “tim kecil”. Trump angkat menantu Jared Kushner jadi special envoy untuk Gaza dan Ukraina, pakai sahabat bisnis Steve Witkoff buat nego Putin.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.