Transformasi Ekonomi Perdesaan Melalui Program Makan Bergizi
Program Makan Bergizi dorong kesejahteraan petani, stabilisasi harga pangan, dan kemandirian ekonomi desa Indonesia.
Penulis:
Hasanudin Aco
Editor:
Glery Lazuardi

SELAMA beberapa dekade terakhir, narasi pembangunan sering kali lebih fokus pada
industrialisasi perkotaan, namun periode 2020-2025 menjadi titik balik yang menunjukkan bahwa
sektor pertanian merupakan "jantung" yang menjaga kestabilan bangsa di tengah krisis global.
Petani kini bukan lagi sekadar pekerja sektor pertanian, melainkan benar-benar sebagai Penyanggah Tatanan Negara Indonesia (Petani), seperti yang pertama kali diperkenalkan oleh Ir. Soekarno pada tahun 1952.
Yakni untuk mengingatkan pentingnya peran petani dalam menjaga ketahanan pangan dan kedaulatan pangan Indonesia serta sebagai penopang perekonomian nasional.
Latar belakang penulisan ini didasarkan pada kebutuhan untuk menganalisis bagaimana kesejahteraan petani (NTP), kesempatan kerja, serta program Makan Bergizi (MBG) membentuk segitiga emas kemandirian ekonomi.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diusung oleh Asta Cita Presiden Prabowo menunjukkan pergeseran paradigma sektor pertanian dari hal yang marginal menjadi pendorong utama perekonomian nasional.
Fokus utamanya terletak pada hubungan antara peningkatan gizi generasi penerus bangsa, penciptaan lapangan kerja baru di daerah pedesaan dan perkotaan, serta penerapan
program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai stimulus pertumbuhan ekonomi makro.
Data menunjukkan bahwa sinergi antara ketiga aspek tersebut tidak hanya meningkatkan kesejahteraan gizi nasional, tetapi juga menciptakan kemandirian ekonomi desa yang berkelanjutan melalui peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP).
Data ekonomi nasional menunjukkan adanya kenaikan yang terus-menerus di sektor pertanian,
seperti yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2024. Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai angka 122,78, dan pada bulan Desember 2025, NTP meningkat lagi menjadi 125,35.
Secara matematis, terjadi kenaikan sebesar 2,57 point atau 2,09 persen dalam waktu satu tahun. Jika dilihat dalam kurun waktu lima tahun, pertumbuhan daya beli NTP Nasional meningkat dari 103,25 (2020) menjadi 125,35 (2025).
Kenaikan ini mencapai 21,4 persen, yang menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat jauh lebih cepat dari biaya produksi dan inflasi rumah tangga.
Kenaikan tersebut menunjukkan adanya tren positif terhadap peningkatan daya beli petani yang
terus meningkat secara signifikan, sehingga menjadi salah satu sasaran pembangunan berkelanjutan (SDGs).
SDGs adalah sejumlah tujuan yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk
menyelesaikan berbagai tantangan global dan mendorong pembangunan berkelanjutan.
Tujuan ini berlaku dari tahun 2016 hingga 2030, dengan fokus pada pengakhiran kemiskinan, pengurangan kesenjangan, serta perlindungan lingkungan.
Salah satu bagian dari SDGs adalah investasi dalam praktik pertanian berkelanjutan, yang diharapkan dapat membantu mengurangi masalah kelaparan nasional dan krisis pangan global.
Sektor pertanian tidak hanya menjadi penyedia bahan pangan untuk 280 juta penduduk Indonesia, tetapi juga memberikan lapangan kerja namun sekaligus penopang ekonomi rumah tangga yang tinggal diwilayah perdesaan namun juga sebagai penyangga ekonomi nasional.
Stimulus Ekonomi Desa
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan