Deep State, Musuh Pembangunan
Deep State di birokrasi: sabotase kebijakan publik, ancaman kedaulatan, dan musuh terbesar pembangunan nasional.
Editor:
Glery Lazuardi
Pola "slow-walking" atau perlambatan proyek strategis menjadi senjata utama. Proyek bisa melambat atau bahkan macet total karena alasan teknis direkayasa. Faktornya, jaringan kelompok mereka tidak mendapatkan jatah pekerjaan dari tender tersebut.
Fenomena ini merupakan pengkhianatan nyata terhadap mandat rakyat dan kemajuan bangsa. Data BPKP menunjukkan, kebocoran anggaran seringkali berakar pada fase perencanaan, sudah "dikunci" oleh spesifikasi tertentu dan hanya bisa dipenuhi oleh segelintir vendor kroni.
Beginilah cara kerja "Negara Dalam" di birokrasi. Mereka melawan negara bukan dengan senjata, tetapi dengan pena manipulatif saat merumuskan syarat lelang.
Budaya Feodal
Perbedaan mendasar antara birokrasi permanen di negara seperti Inggris dengan di Indonesia terletak pada sifatnya. Di Indonesia, fenomena ini bersifat predatoris terhadap anggaran publik. Kebijakan publik dibelokkan menjadi instrumen pengayaan kelompok dengan regulasi pesanan.
Dampaknya merusak program kementerian, proyek jalan molor bertahun-tahun, kualitas jembatan rendah karena anggaran “dikerat” di tengah jalan, dan kerugian negara mencapai angka fantastis akibat mark-up sistemis. Budaya feodal rupanya masih melekat, membuat pejabat bawahan merasa sebagai "raja kecil" di wilayah teknisnya, merasa tidak tersentuh oleh perubahan politik di level atas.
Menghadapi kenyataan pahit ini, pemerintah harus melihat kegaduhan yang disuarakan Menterii Pekerjaan Umum Dody Hanggodo sebagai momen "desinfektan massal" pada sistem birokrasi. Perlu penegakan responsivitas dan evaluasi radikal terhadap sumber daya manusia di posisi-posisi kunci.
Pejabat yang terbukti melakukan perlambatan program prioritas harus dicopot seperti pesan Presiden Prabowo dalam setiap kesempatan. Tidak ada tempat bagi "raja-raja kecil" yang berani melawan akselerasi pembangunan nasional.
Salah satu cara paling efektif untuk memutus urat nadi Deep State adalah melalui penguatan GovTech. Dengan digitalisasi yang terintegrasi, pemerintah dapat menghancurkan asimetri informasi yang selama ini menjadi senjata utama mereka. Sistem elektronik transparan membuat setiap aliran data dan penggunaan anggaran terpantau real-time tanpa celah kompromi manusia.
Penguatan transparansi rantai pasok dan audit investigatif terhadap beneficial ownership (pemilik manfaat akhir) harus dilakukan secara agresif. Audit tidak boleh lagi sekadar formalitas mengejar opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) seringkali hanya kosmetik di permukaan.
Deep State Musuh Pembangunan
Keresahan di otoritas PU harus menjadi pemantik kesadaran kolektif bahwa birokrasi adalah pelayan rakyat, bukan penguasa kebijakan. Musuh terbesar pembangunan seringkali memang berasal dari dalam selimut sendiri.
Kita butuh sebuah "negara terang benderang" di mana setiap rupiah kebijakan publik dapat diuji dan dipertanggungjawabkan. Jika kita masih menemukan hambatan regulasi yang tidak masuk akal atau aturan yang mendadak berubah menguntungkan segelintir pihak, maka itulah wajah Deep State yang sedang bekerja.
Menjinakkannya adalah tugas konstitusional yang berisiko, namun harus dilakukan demi mengembalikan daulah kebijakan publik ke tangan rakyat dan menjaga marwah bangsa dari tangan-tangan jahanam yang ingin menyandera kemajuan Indonesia.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan