Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Planolog: Saatnya Optimalisasi Ruang Sisa

Optimalisasi ruang sisa jadi strategi nasional penting untuk pangan, energi, dan pembangunan berkelanjutan Indonesia.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Planolog: Saatnya Optimalisasi Ruang Sisa
dok pribadi
Eduard B Hutagalung, Direktur Eksekutif TERAS Institute 

Tata ruang kita masih cenderung diperlakukan secara seragam, seolah seluruh ruang memiliki karakter yang sama. Padahal, setiap ruang memiliki potensi yang berbeda. Ada ruang yang harus dilindungi secara mutlak, tetapi ada pula ruang yang justru perlu didorong menjadi motor pertumbuhan baru. 

Ruang sisa termasuk dalam kategori tersebut. 

Dengan pendekatan yang tepat, ruang sisa dapat dikembangkan menjadi basis agroindustri, pusat pengolahan, serta lokasi pengembangan energi terbarukan.

Lebih jauh, ruang ini dapat memperkuat sistem logistik dan mendorong keterhubungan desa dengan pasar. 

Namun, seluruh potensi tersebut hanya dapat diwujudkan apabila tata ruang berfungsi sebagai instrumen strategis pembangunan. 

Di sinilah peran perencana tata ruang atau planolog menjadi krusial. 

Selama ini, planolog kerap dipersepsikan sebatas penyusun dokumen. Padahal, optimalisasi ruang sisa menuntut peran yang jauh lebih strategis. Planolog tidak lagi cukup menjadi penjaga peta, tetapi harus menjadi penentu arah pembangunan. 

Rekomendasi Untuk Anda

Ruang sisa membutuhkan perencanaan, bukan sekadar pengaturan. 

Peran planolog dimulai dari kemampuan membaca ruang secara lebih mendalam - mengidentifikasi potensi tersembunyi, keterkaitan antar sektor, serta peluang integrasi antara pangan, energi, dan sistem logistik.

Lebih dari itu, planolog harus hadir dalam proses pengambilan keputusan, bekerja bersama pemerintah untuk menerjemahkan data spasial menjadi kebijakan yang konkret dan operasional. 

Dalam optimalisasi ruang sisa, planolog menjadi penghubung antara visi dan implementasi. 

Mereka tidak hanya menyusun rencana, tetapi memastikan rencana tersebut dapat dijalankan. Ini mencakup pemetaan ruang sisa secara presisi, penyusunan skenario pemanfaatan, serta pengawalan integrasi ke dalam RTRW dan RDTR agar ruang sisa tidak lagi berada di wilayah abu-abu, tetapi ditetapkan sebagai zona transformasi ekonomi. 

Peran ini juga menuntut pendekatan kolaboratif. Planolog perlu menjembatani kepentingan pemerintah, koperasi, pelaku usaha, dan masyarakat. Dengan demikian, perencanaan tidak berhenti di atas kertas, tetapi terhubung dengan realitas di lapangan. 

Dengan pendekatan ini, perencanaan wilayah tidak lagi sekadar alat pengendalian, tetapi menjadi instrumen perubahan. 

Ke depan, tantangan pembangunan tidak hanya terletak pada bagaimana mempertahankan ruang yang telah produktif, tetapi juga bagaimana mengoptimalkan ruang yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas