Kecelakaan KA Siapa yang Disalahkan?
kereta api (KA) dianggap sebagai salah satu moda transportasi darat paling aman karena memiliki jalur khusus terpisah, aturan keselamatan berlapis.
Editor:
Suut Amdani
Korban kecelakaanlah yang paling parah mengalami trauma. Sejak mobilnya mogok, sepupu saya tidak berani setir mobil lagi. Namun, dalam kecelaan terakhir, Endang yang baru berhasil dievakuasi setelah 9 jam terjepit di antara jenazah korban. Di dalam waktu yang panjang itu, Endang harus bertahan menahan rasa sakit ditambah pengalamam horror karena terjepit di antara korban lain yang meninggal dunia.
Setiap kali ada kecelakaan parah, baik angkutan darat bus dan KA serta pesawat terbang, begitu sering kita mendengar dua frasa yang terus diulang oleh pejabat, yaitu “yang terakhir” dan “evaluasi menyeluruh”. Mengapa janji itu terus diulang setiap kali ada kecelakaan sejenis?
Bagaimana dengan masyarakat awam yang mendengar pernyataan itu? Begitu jengkel sampai apatis sehingga menyebut pernyataan itu sebagai ‘Ritual Pasca-Bencana’. Memang kalimat sakti itu terkesan sebagai ‘peredam amarah’ dan ‘pain killer’ bagi korban maupun keluarganya yang panik, panas dan putus asa.
Apa yang seharusnya kita lakukan? Ucapan Presiden Prabowo yang sering muncul di baliho dan spanduk di tempat-tempat ramai bisa kita jadikan sikap bersama: “Kalau kita tidak bisa membantu banyak orang, bantulah beberapa orang. Kalau tidak bisa membantu beberapa orang, bantulah satu orang. Dan kalau tidak bisa membantu satu orang pun, janganlah kita menyusahkan orang lain.”
Tokoh dunia banyak yang punya pikiran yang mirip. Suster Teresa pernah berkata, “If you can't feed a hundred people, then feed just one.”
Dalai Lama berkata bijak, “Our prime purpose in this life is to help others. And if you can't help them, at least don't hurt them.”
“We can't help everyone, but everyone can help someone,” tutur Ronald Reagan.
Intinya, jika kita belum bisa mempraktikkan filantropi praktis, jalani prinsip non-maleficence, yaitu tidak merugikan orang lain.
Ketimbang saling menyalahkan, lebih baik berkontribusi sekecil apa pun. Doa yang tulus bagi para korban jauh lebih baik ketimbang menyalahkan orang-orang yang terlibat dalam kecelakaan. Mereka juga manusia yang bisa lalai menjalankan SOP karena mengantuk, jenuh dan lelah.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan