Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Program Makan Bergizi Gratis: Bukan Sekedar Kebijakan

Program Makan Bergizi Gratis Rp335 triliun dorong gizi anak, UMKM lokal, dan efek pengganda ekonomi nasional.

Tayang:
Diperbarui:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Glery Lazuardi
zoom-in Program Makan Bergizi Gratis: Bukan Sekedar Kebijakan
Tribun Jabar/Gani Kurniawan
MAKAN BERGIZI - Sejumlah pelajar menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) saat launching program MBG di Perguruan Muhammadiyah Antapani, Jalan Kadipaten Raya, Antapani, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (25/8/2025). Muhammadiyah Kota Bandung meluncurkan Program MBG di Perguruan Muhammadiyah Antapani dengan target awal 1.700 siswa dari 15 sekolah Muhammadiyah (TK, SD, SMP, dan SMA). Program ini akan terus berkembang hingga 3.500 penerima manfaat, termasuk ibu hamil dan menyusui, sebagai bagian dari kontribusi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

profile tribunners
PROFIL PENULIS
Mursalim Nohong
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin

DALAM beberapa hari terakhir sejak pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mengimplementasikan program makan siang gratis, opini publik seolah bergerak tanpa henti.

Tidak sedikit yang pro, meskipun lebih banyak yang kontra karena faktor ketidakpahaman atau seolah-olah tidak mau mencari tahu manfaat yang dihasilkan. 

Pada prinsipnya, program Makan Bergizi Gratis atau MBG merupakan salah satu kebijakan publik berskala besar yang memiliki implikasi luas bagi pembangunan manusia dan perekonomian nasional.

Secara substansial, program ini tidak hanya dimaksudkan untuk menyediakan makanan bergizi bagi peserta didik dan kelompok rentan, tetapi juga berpotensi menjadi instrumen penggerak ekonomi lokal melalui peningkatan permintaan pangan, penciptaan lapangan kerja, penguatan UMKM, serta perluasan rantai pasok domestik. 

Badan Gizi Nasional menyebutkan bahwa pada 2026 program MBG ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Skala penerima sebesar ini menunjukkan bahwa MBG bukan sekadar program bantuan konsumsi, melainkan kebijakan pembangunan yang dapat memengaruhi struktur permintaan pangan, pola produksi lokal, serta distribusi pendapatan masyarakat.

Efek terdampak ini kemudian dikenal sebagai multiplier effect dalam ekonomi, terutama terhadap masyarakat kelas bawah dengan latar belakang pendidikan tergolong rendah.

Rekomendasi Untuk Anda

Dari sisi fiskal, MBG memiliki kontribusi strategis terhadap APBN. Kementerian Keuangan melalui informasi APBN 2026 mencatat bahwa MBG menjadi salah satu kebijakan terobosan dengan nilai anggaran Rp335 triliun dan target 82,9 juta penerima manfaat.

Besarnya alokasi tersebut menunjukkan bahwa MBG merupakan bentuk belanja negara yang perlu dianalisis tidak hanya dari aspek biaya, tetapi juga dari potensi manfaat ekonomi berlapis.

Dalam perspektif ekonomi pembangunan, belanja publik yang dirancang secara produktif dapat menciptakan multiplier effect, yaitu efek pengganda yang muncul ketika pengeluaran awal pemerintah menghasilkan tambahan transaksi, pendapatan, konsumsi, dan produksi pada sektor lain.

Multiplier effect menjelaskan bahwa peningkatan pengeluaran pada satu sektor dapat mendorong peningkatan pendapatan pada sektor lain melalui proses perputaran ekonomi.

Dalam konteks MBG, pengeluaran pemerintah untuk menyediakan makanan bergizi akan menimbulkan permintaan terhadap berbagai komoditas pangan seperti beras, telur, ayam, ikan, sayur, buah, susu, tahu, tempe, dan bahan pangan lokal lainnya yang pada umumnya dikelola oleh masyarakat atau kelompok masyarakat di desa-desa. 

Permintaan tersebut kemudian menggerakkan petani, peternak, nelayan, pedagang bahan baku, dapur penyedia makanan, jasa logistik, pekerja pengemasan, hingga rumah tangga yang memperoleh pendapatan dari aktivitas ekonomi tersebut.

Untuk itu, MBG tidak dapat dipahami hanya sebagai aktivitas pemberian makanan kepada penerima manfaat. Program ini dapat dilihat sebagai mekanisme ekonomi yang menghubungkan belanja negara dengan sistem produksi pangan, distribusi lokal, serta peningkatan pendapatan masyarakat.

Semakin tinggi keterlibatan pelaku lokal dalam rantai pasok MBG, semakin besar pula peluang efek pengganda yang tercipta di daerah. Sebaliknya, apabila pengadaan bahan baku terlalu tersentralisasi, dikuasai oleh pemasok besar, atau bergantung pada impor, maka sebagian manfaat ekonomi akan keluar dari komunitas lokal sehingga efek penggandanya menjadi lebih lemah.

Efek pengganda pertama dari MBG dapat dilihat pada sektor produksi pangan. Program ini membutuhkan pasokan bahan makanan dalam jumlah besar, rutin, dan terstandar. Kondisi tersebut dapat menciptakan pasar yang lebih pasti bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku agribisnis lokal.

Halaman 1/3

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas