Program Makan Bergizi Gratis: Bukan Sekedar Kebijakan
Program Makan Bergizi Gratis Rp335 triliun dorong gizi anak, UMKM lokal, dan efek pengganda ekonomi nasional.
Editor:
Glery Lazuardi
Dalam jangka pendek, peningkatan permintaan dapat meningkatkan volume penjualan. Dalam jangka menengah, kepastian permintaan dapat mendorong produsen lokal untuk meningkatkan perencanaan produksi, kualitas komoditas, kapasitas penyimpanan, serta pola distribusi.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep home-grown school feeding, yaitu program makan sekolah yang menghubungkan pemenuhan gizi anak dengan penguatan produksi pangan lokal. World Food Programme menekankan bahwa program makan sekolah dapat mendukung petani kecil melalui pengadaan pangan lokal, memperkuat perdagangan, meningkatkan pendapatan, menciptakan lapangan kerja, serta mendukung sistem pertanian yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Dengan demikian, jika MBG diarahkan pada pemanfaatan pangan lokal, program ini dapat menjadi instrumen integratif yang menghubungkan agenda gizi, pembangunan pedesaan, dan ketahanan pangan.
Namun, dampak positif tersebut memerlukan desain kelembagaan yang jelas. Pemerintah daerah perlu memetakan kapasitas produksi pangan lokal, termasuk komoditas unggulan, musim panen, kemampuan pasokan, harga, serta jalur distribusi.
Tanpa perencanaan produksi yang baik, lonjakan permintaan dari MBG berpotensi menimbulkan tekanan harga, terutama pada komoditas pangan strategis seperti telur, ayam, beras, dan sayuran. Karena itu, MBG perlu dihubungkan dengan kebijakan stabilisasi pangan, penguatan koperasi produsen, serta pendampingan teknis bagi petani dan peternak.
Efek pengganda kedua terlihat pada UMKM pangan dan penyedia makanan di dapur. Pelaksanaan MBG membutuhkan aktivitas pengolahan, pengemasan, distribusi, pengendalian mutu, administrasi, serta pengelolaan limbah.
Rangkaian aktivitas ini dapat membuka peluang bagi UMKM katering, koperasi, BUMDes, yayasan lokal, serta usaha jasa pendukung lainnya. Dalam konteks ini, MBG dapat menjadi sumber permintaan baru bagi usaha kecil, terutama apabila mekanisme kemitraannya dirancang secara inklusif dan tidak hanya menguntungkan pelaku usaha besar.
Kajian INDEF 2024 mengenai multiplier effect program MBG menunjukkan bahwa pilot project di 10 kabupaten/kota menghasilkan peningkatan rata-rata 3 tenaga kerja pada UMKM yang terlibat.
Selain itu, UMKM peserta pilot project memperoleh peningkatan pendapatan bersih bulanan sebesar 33,68 persen dibandingkan dengan sebelum mengikuti program. Data ini penting karena menunjukkan bahwa MBG memiliki potensi konkret untuk menciptakan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan usaha kecil.
Dengan kata lain, manfaat MBG tidak berhenti pada penerima makanan, tetapi juga meluas ke pelaku ekonomi di sepanjang rantai produksi dan distribusi. Dampak terhadap tenaga kerja juga dapat terjadi pada tingkat operasional di dapur. Setiap dapur MBG membutuhkan tenaga masak, ahli gizi, petugas kebersihan, pengemasan, administrasi, keamanan pangan, serta distribusi.
Jika program ini meluas secara nasional, kebutuhan tenaga kerja lokal akan meningkat secara signifikan. Hal ini sangat relevan bagi daerah dengan tingkat pengangguran terbuka, pekerja informal, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan akses kerja berbasis komunitas.
Multiplier effect ketiga muncul pada sektor logistik dan jasa transportasi. Makanan bergizi harus dikirim tepat waktu, aman, dan layak konsumsi ke sekolah atau ke titik penerima manfaat. Karena itu, MBG membutuhkan sistem distribusi yang melibatkan pengemudi, kendaraan logistik, pengatur rute, serta fasilitas penyimpanan.
Mitra pengemudi dalam pilot project MBG mengalami peningkatan pendapatan bersih harian sebesar 17 persen dan memperoleh tambahan rata-rata 2 pemesanan per hari setelah terlibat dalam program tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa MBG juga menggerakkan sektor jasa, bukan hanya sektor pangan.
Tambahan pendapatan yang diterima UMKM, pekerja dapur, petani, dan pengemudi kemudian akan dibelanjakan kembali untuk kebutuhan rumah tangga. Perputaran inilah yang menciptakan efek lanjutan bagi perekonomian lokal.
Pendapatan yang meningkat dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan, membayar biaya pendidikan, transportasi, komunikasi, kesehatan, serta konsumsi harian lainnya. Dengan demikian, MBG berpotensi memperkuat daya beli masyarakat, terutama apabila rantai pasoknya benar-benar melibatkan pelaku ekonomi di daerah.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
Baca tanpa iklan