Geser ke atas / tap '✖' untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Deep Learning ‘Sepatu Lama dalam Kardus Baru’

Istilah deep learning menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam ruang diskusi publik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Deep Learning ‘Sepatu Lama dalam Kardus Baru’
TRIBUN JATENG/TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
ILUSTRASI BELAJAR - Siswa kelas VII SMP N 9 Semarang sedang mengikuti proses belajar tatap muka di minggu terakhir sebelum libur Hari Raya Idul Fitri, Selasa (4/5/21). Istilah deep learning menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam ruang diskusi publik. 
profile tribunners
PROFIL PENULIS
Adip Arifin
Pengajar di STKIP PGRI Ponorogo, Jawa Timur

BAGI sebagian orang, khususnya insan pendidikan Indonesia, istilah deep learning menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam ruang diskusi publik.

Tidak sedikit yang beranggapan bahwa kemunculannya mampu menjawab tantangan pendidikan yang ada di Indonesia saat ini.

Kehadirannya seolah menjadi setitik cahaya terang di tengah meredupnya sinaran pendidikan bagi anak bangsa.

Namun, tidak sedikit pula yang menganggapnya sebagai produk lama yang dikemas dengan bungkus baru, alias ‘sepatu lama dalam kardus baru.’

Sebelum berdiskusi lebih lanjut, ada baiknya mengupas dulu apa itu deep learning? Apakah yang ditawarkan dalam pendekatan deep learning? Lalu, apa saja elemen komplementernya?

Mari kita kupas satu per satu.

Deep learning sejatinya adalah suatu pendekatan (approach) pembelajaran.

Rekomendasi Untuk Anda

Pertama kali dikenalkan oleh Geoffrey Hinton pada 1980-an. Hinton sendiri merupakan seorang ilmuan di bidang komputer dan psikolog kognitif asal Kanada.

Dia terlibat aktif dalam mengembangkan penelitian berbasis Artificial Neural Networks (jaringan saraf tiruan). 

Aktifitasnya ini kemudian mengantarkan dirinya menemukan dan memformulasikan deep learning

Secara konseptual, deep learning (pembelajaran mendalam) dalam Kurikulum Merdeka bukanlah konsep yang sepenuhnya baru.

Akan tetapi, lebih pada pendekatan yang di-‘daur ulang’ dengan penyempurnaan sebagai respons atas kebutuhan pendidikan saat ini.

Deep learning dapat dianggap sebagai transformasi dari pendekatan sebelumnya dalam kurikulum nasional, yakni sientific approach.

Istilah deep learning sendiri di Indonesia mulai menjadi perbincangan dalam berbagai diskursus pendidikan. 

Tepatnya sejak 2025, ketika Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) mulai mempopulerkan istilah tersebut. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di jenjang sekolah dasar dan menengah. 

Terlepas dari tujuan tersebut, deep learning telah diformulasikan melalui tiga pilar inti elemen penyokongnya.

Ketiganya adalah mindful learning (berkesadaran), meaningful learning (bermakna), dan joyful learning (menyenangkan).

Mindful learning berkaitan dengan aktifitas belajar untuk mengaktifkan nalar kritis siswa dengan kesadaran penuh. Tidak sekedar menghafal materi. Meaningful learning berorientasi pada relevansi pengetahuan siswa dengan aplikasinya dalam dunia nyata.

Sedangkan joyful learning menekankan pada terciptanya pembelajaran yang menyenangkan, bebas dari tekanan.  

Jika kita merunut ke belakang sejenak, ketiga istilah tersebut bukanlah hal baru.

Pada tahun 1997 Ellen J. Langer dari Harvard University mulai mengenalkan konsep mindful learning melalui bukunya "Mindful Learning: 101 Ways to Learn Better.

Inti dari konsep ini adalah menentang pembelajaran yang mengedepankan kekuatan hafalan (mindless learning).

Istilah meaningful learning justru berumur jauh lebih tua. Istilah tersebut pertama kali muncul pada tahun 1960-an.

Dicetuskan oleh David Ausubel, seorang psikolog kognitif berdarah Amerika. Konsep yang ia usung menitikberatkan pada bagaimana mengaitkan pengetahuan baru siswa dengan  pemahaman konsep yang sudah ada dalam struktur kognitif siswa.

Selanjutnya istilah joyful learning erat kaitannya dengan Bobby DePorter, pencetus metode Quantum Learning yang ia gagas pada awal 1980-an.

Sebuah metode pembelajaran yang berakar pada filosofi pendidikan yang bermakna dan menyenangkan.  

Jika kita cermati, maka pilar deep learning sejatinya telah berkembang sejak puluhan tahun lalu di negara barat.

Kemasan yang nampak baru, namun jika dikuliti lebih dalam, merupakan produk lama.

Bahkan, di awal pengenalannya di Kurikulum Merdeka, banyak orang yang berpikir bahwa deep learning adalah kurikulum.

Jika kita cermati, pilar deep learning dalam pendidikan—yang mencakup mindful, meaningful, dan joyful learning—sejatinya telah berkembang sejak puluhan tahun lalu melalui berbagai teori psikologi kognitif dan konstruktivisme di negara barat. Kemasan yang nampak baru ini, jika dikuliti lebih dalam, sebenarnya merupakan produk lama yang diformulasikan kembali agar relevan dengan kebutuhan zaman.

Sayangnya, dinamika komunikasi publik yang kurang utuh di awal pengenalannya di Kurikulum Merdeka sempat memicu disinformasi. Banyak orang menganggap deep learning adalah sebuah kurikulum baru yang menggantikan kebijakan sebelumnya. Padahal ia hanyalah sebuah pendekatan untuk meningkatkan proses dan kualitas pembelajaran.

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak, khususnya kalangan pendidikan dan pemangku kebijakan untuk tidak terjebak pada sekadar istilah tren atau jargon semata. Karena keberhasilan implementasi deep learning dalam pembelajaran tidak diukur dari seberapa fasih insan pendidikan melafalkan konsep tersebut. Ada proses yang jauh lebih esensial untuk dipahami, dilaksanakan, dan diwujudkan dalam ruang kelas kita.

Guru seyogyanya mampu merancang interaksi kelas yang benar-benar memantik rasa ingin tahu, keterlibatan aktif dan bermakna bagi siswa.

Ingat, pendekatan ini berakar pada prinsip pembelajaran esensial yang secara kognitif maupun empiris telah diuji.

Maka sangat mungkin, pembelajaran berbasis mindful, meaningful, dan joyful learning telah guru terapkan di ruang kalas, jauh sebelum istilah deep learning populer. 

(*)

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas