Soroti Eks Ketua BEM UGM, Amstrong Sembiring: Garis Batas Tipis Antara Kritik dan Penghinaan
Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto kritik Presiden Prabowo, pakar hukum sebut batas kritik dan penghinaan sangat tipis.
Penulis:
Glery Lazuardi
Dalam sebuah diskusi publik, Tiyo secara terbuka mempertanyakan gaya komunikasi Presiden yang dinilainya lebih banyak berisi motivasi ketimbang kebijakan konkret.
"Saya kadang bingung, Pak Presiden ini adalah presiden atau motivator. Karena dalam banyak pidatonya itu lebih sering memberi seruan nasihat daripada seruan kebijakan," ujar Tiyo Ardianto.
Ia juga menyoroti polemik penangkapan figur publik berinisial Dadan yang menurutnya berpotensi mengalihkan perhatian masyarakat dari isu ekonomi nasional.
"Beberapa hari terakhir sebelum Pak Dadan ditangkap, percakapan publik kita itu sebenarnya tidak hanya soal MBG, tapi soal bagaimana krisis itu mungkin akan terjadi. Soal dolar yang naik, soal bagaimana IHSG itu turun sedemikian rupa, tapi mendadak hilang ketika Dadan ditangkap. Saya kira ada satu hal yang bisa jadi indikasi bahwa ketika yang terjadi hanya ganti pemain, ada dua hal," katanya.
Tiyo kemudian melanjutkan kritiknya terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang selama ini menjadi salah satu program unggulan pemerintah.
"Yang pertama ini soal memindahkan medan konflik. Bahwa sebelumnya orang itu menyerang presiden sebagai orang yang sangat bangga terhadap MBG. Kadang kita sebut beliau itu CEO MBG yang menganggap NKRI ini cuma perusahaan MBG. Itu yang pertama. Yang kedua soal mengkambinghitamkan Pak Dadan, supaya apa yang biasa dilakukan Pak Prabowo terjadi. Pak Prabowo itu kan punya mentalitas... Jadi beliau itu kalau enggak jadi juru savior (juru selamat) enggak keren. Ini terjadi juga di dalam kasus penangkapan Pak Dadan. Saya rasa publik patut curiga, bahwa jangan-jangan yang terjadi ini cuma pengkambinghitaman, cuma penumbalan supaya medan konflik yang awalnya nyerang presiden jadinya nyerang ke Pak Dadan," lanjutnya.
Baca juga: Dipasang Pelacak, Mobil Tiyo Eks Ketua BEM UGM Ternyata Milik Saudara, Pinjam karena Merasa Tak Aman
Lulusan Paket C yang Berhasil Masuk UGM
Di balik kritik-kritiknya yang ramai diperbincangkan, Tiyo memiliki latar belakang pendidikan yang cukup unik. Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), ia merupakan mahasiswa Program Studi Filsafat UGM.
Pria asal Kudus, Jawa Tengah, itu diketahui bukan lulusan SMA formal, melainkan lulusan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah. Ia berhasil lolos masuk UGM pada 2021 menggunakan ijazah Paket C.
Perjalanannya menjadi mahasiswa UGM menjadi inspirasi tersendiri karena mampu menembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia melalui jalur pendidikan nonformal.
Aktif di Dunia Sastra dan Teater
Sebelum dikenal sebagai aktivis mahasiswa, Tiyo telah lama aktif di bidang seni dan sastra. Ia tercatat sebagai sutradara teater, aktor, penyair, hingga editor buku.
Sejumlah prestasi yang pernah diraihnya antara lain menjadi penyaji terbaik kedua Festival Monolog Bahasa Jawa di Universitas Negeri Semarang pada 2020 serta juara pertama lomba baca puisi inspiratif tingkat nasional yang diselenggarakan Penerbit Erlangga pada 2021.
Namanya juga pernah tercatat sebagai penyair termuda dalam Pertemuan Penyair Nusantara XI tahun 2019.
Menjadi Ketua BEM UGM 2025
Sebelum menjabat Ketua BEM KM UGM, Tiyo telah aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan menyelesaikan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Slungkep, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati pada 2024.
Ia resmi menjabat sebagai Ketua BEM KM UGM sejak Januari 2025 dan menjadi salah satu figur mahasiswa yang paling sering tampil menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Mengaku Alami Berbagai Teror
Belakangan, Tiyo mengaku mengalami sejumlah kejadian yang menurutnya terjadi setelah dirinya vokal mengkritik pemerintah.