Akibatnya, pada volume yang sama dapat terjadi sedikit perbedaan massa dan kandungan energi jika suhu BBM berbeda.
Meski demikian, Leopold menegaskan bahwa pengaruh suhu lingkungan relatif kecil karena tangki penyimpanan BBM dirancang dengan sistem insulasi tertentu.
Hal ini membuat perbedaan suhu BBM antara siang dan malam hari juga tidak terlalu besar.
Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan pengisian 40 liter bensin pada siang hari dengan suhu BBM sekitar 2–3 derajat Celsius lebih tinggi dibanding malam hari. Dengan koefisien muai bensin sekitar 0,001 per derajat Celsius, perbedaan volume akibat suhu tersebut diperkirakan kurang dari 0,1 liter per 40 liter.
"Untuk solar, selisihnya bahkan lebih kecil lagi," jelasnya.
Dalam praktik berkendara, perbedaan tersebut setara dengan beberapa kilometer jarak tempuh dan sangat dipengaruhi oleh faktor lain, seperti gaya mengemudi, kondisi lalu lintas, tekanan ban, serta kondisi kendaraan.
Oleh karena itu, ia menyarankan masyarakat tidak perlu mengatur waktu khusus untuk mengisi BBM.
Menurutnya, faktor kenyamanan, keselamatan, dan kebutuhan perjalanan jauh lebih penting dibanding memilih waktu siang atau malam hari.
"Kalau sengaja keluar malam hari hanya untuk mengisi bensin dengan jarak beberapa kilometer, bisa jadi justru BBM yang terpakai lebih banyak," ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya fokus pada jumlah liter sesuai kebutuhan, kualitas layanan SPBU, serta menjaga kondisi kendaraan agar efisiensi BBM dapat dirasakan secara lebih nyata.
Terakhir, Leopold menegaskan bahwa penjualan BBM berbasis liter merupakan kesepakatan praktis.
Meski secara fisika kandungan energi per liter dapat sedikit berubah akibat suhu, perbedaan tersebut kecil dan bersifat alami.
(Tribunnews.com/Latifah)
Baca tanpa iklan