News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Rupiah Melemah ke Rp 16.876 Per Dolar AS Pada Jumat 6 Februari 

Penulis: Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor: Sanusi
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Pada perdagangan Jumat (6/2/2026) sore, rupiah ditutup melemah dari Rp 16.842 per dolar Amerika Serikat (AS) ke Rp 16.876.

Pasar tenaga kerja yang mendingin disebut memberi The Fed lebih banyak dorongan untuk memangkas suku bunga, dengan dolar berada di bawah tekanan akibat hal ini.

"Namun, pasar juga tidak yakin tentang kebijakan moneter AS di bawah Warsh. Mantan gubernur The Fed ini dipandang sebagai pilihan yang kurang dovish untuk peran puncak The Fed," kata Ibrahim.

Faktor Dalam Negeri

Faktor pertama adalah lembaga pemeringkat, Moody’s Ratings, menurunkan rating outlook atau prediksi utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meski peringkat utang Indonesia dipertahankan di level layak investasi alias investment grade.

Perubahan itu disebut mencerminkan kebijakan yang makin sulit ditebak, kekhawatiran terhadap tata kelola, dan meningkatnya ketidakpastian yang bisa mempengaruhi kepercayaan investor.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, Moody’s memperkirakan akan menggerus kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan Indonesia yang telah lama dibangun.

Meski begitu, Moody’s tetap mempertahankan rating Indonesia di Baa2. Artinya, Indonesia masih tergolong di kelompok investment grade.

"Penurunan rating ini menambah deretan peringatan terhadap meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya tata kelola pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto," kata Ibrahim.

Moody’s juga menyoroti tantangan yang dihadapi pemerintahan Prabowo dalam upaya memulihkan kepercayaan pasar dan mencegah aksi jual besar-besaran aset Indonesia.

Faktor kedua adalah posisi cadangan devisa Indonesia menurun pada Januari 2026, mencapai US$ 154,6 miliar, atau lebih rendah dari bulan sebelumnya yang mencapai US$ 156,5 miliar.

Penurunan itu disebut dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah sebagai respons BI dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat.

"Meski turun, cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan," kata Ibrahim.

Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.

BI juga disebut terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini