News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Gejolak Rupiah

Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Dampaknya Bisa Langsung ke Kantong Masyarakat

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan mata uang rupiah dan dollar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta, Kamis (5/3/2026). nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan Rupiah di pasar spot terdepresiasi 0,08% menjadi Rp 16.905 per dolar AS, meskipun kurs referensi Jisdor BI justru menunjukkan penguatan tipis ke Rp 16.886 per dolar AS. Menurut analis, pelemahan Rupiah dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Tribunnews/Jeprima

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah semakin mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Tercatat, rupiah pada perdagangan kemarin, Kamis (5/3/2026), ditutup di level Rp 16.905 per dolar AS, turun 0,08 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada Rp 16.892 per dolar AS. 

Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan rupiah masih terdampak dari sentimen eksternal yakni meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

Kondisi ini membuat investor lebih memilih instrumen save haven adalah aset atau instrumen investasi yang cenderung mempertahankan atau meningkatkan nilainya saat pasar keuangan sedang bergejolak, inflasi tinggi, atau krisis geopolitik

Baca juga: Imbas Perang Iran, Harga Tiket Pesawat ke Eropa Tembus Puluhan Juta Rupiah

Dalam perkembangan lain, Ibrahim menyebut, Presiden AS Donald Trump secara resmi menominasikan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve berikutnya, sebuah langkah yang dipandang ramah terhadap penurunan suku bunga oleh pasar.

Sedangkan sentimen dari dalam negeri, masih dari  penurunan peringkat oulook utang Indonesia jadi negatif.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.900- Rp16.940," tuturnya.

Dampak ke Kantong Masyarakat

Ibrahim menyampaikan, pelemahan rupiah tidak boleh dianggap sesuatu yang biasa, sebab dampaknya akan menambah pengeluaran masyarakat.

"Pelemahan rupiah berdampak pada harga bahan-bahan pokok," ucap Ibrahim.

Ia mencontohkan, barang-barang yang berpotensi naik seperti produk impor yakni bahan bakar minyak (BBM), kedelai, kacang, barang-barang elektronik, dan komoditas lainnya.

Saat rupiah melemah, biaya yang dikeluarkan untuk impor makin tinggi. Dari kondisi ini, penjual akan menaikkan harga jualnya ke masyarakat.

"Pada saat impornya mahal seperti minyak, itu pasti akan berdampak terhadap barang-barang yang lain. transportasi juga naik, kemudian barang-barang naik," paparnya.

"Lalu tempe dan tahu yang bahan bakunya kedelai impor akan lebih mahal. Bisa juga ukurannya ditipisin," sambung Ibrahim.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini