News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Ini Penyebab Harga Emas Tak Selalu Melonjak Saat Terjadi Perang

Editor: Seno Tri Sulistiyono
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

HARGA EMAS - Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya. JFX mengembangkan perdagangan emas digital yang menggabungkan kemudahan transaksi berbasis digital dengan kepastian underlying emas fisik.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pergerakan harga emas naik turun di tengah perang di kawasan Timur Tengah antara Israel-Amerika Serikat Vs Iran.

Tercatat harga emas dunia di pasar spot di kisaran 4.837,8 dolar AS  per troy ons. 

Sedangkan emas Antam hari ini dihargai Rp 2.893.000 per gram, di mana sebelumnya pernah menyentuh level Rp3 jutaan per gram.

Baca juga: Harga Emas Bertahan Tinggi, Freeport Targetkan Produksi 26 Ton Tahun Ini

Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta (JFX) Yazid Kanca Surya mengatakan, emas merupakan salah satu safe haven (aset aman), tetapi tidak selalu naik saat terjadi perang.

Menurutnya, harga emas turut dipengaruhi pergerakan harga energi, karena saat terjadi perang di kawasan Timur Tengah harga minyak dunia melonjak.

"Negara yang memiliki pasokan emas tinggi akan menjual emasnya di pasar agar cashflownya dalam jumlah besar untuk membeli energi, sehingga harga emas turun," papar Yazid, Rabu (15/4/2026).

Diketahui harga minyak dunia sejak perang AS-Iran terus melonjak, bahkan sempat menembus 100 dolar AS per barel dan kini dikisaran 97 dolar AS per dolar AS.

Menurutnya, meski harga emas turun, tetapi secara jangka panjang komoditas tersebut mengalami kenaikan karena merupakan aset yang paling aman.

"Kalau ada koreksi, itu hanya bersifat sementara. Secara historis juga bisa dilihat, dari dulu emas walau ada koreksi akibat krisis, perang, tapi tetap naik jangka panjang," paparnya.

Di sisi lain, Yazid pun mengimbau investor yang bertransaksi komoditas emas di Bursa Berjangka Jakarta agar dilakukan secara terukur, dengan mempertimbangkan keuangannya.

"Kadang-kadang orang melihat emas bagus, lalu semua uangnya dimasukkan (trading), ketika turun, uangnya habis. Harusnya misal punya Rp10 juta, digunakan 10 persen saja untuk transaksi," paparnya.

Volatilitas Global Meningkat

Yazid menyampaikan, di tengah tekanan geopolitik dan fluktuasi harga komoditas, pelaku pasar semakin membutuhkan instrumen yang mampu memberikan perlindungan terhadap risiko sekaligus menjaga keberlanjutan usaha.

“Dalam kondisi pasar yang semakin tidak pasti, kebutuhan terhadap mekanisme lindung nilai menjadi semakin relevan. Perdagangan berjangka hadir sebagai instrumen yang transparan, terstandarisasi, dan mendukung pembentukan harga yang kredibel di pasar,” ujar Yazid.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini