Langkah itu juga menjadi bagian dari arah transformasi menuju strategic holding yang lebih fokus pada penguatan penciptaan nilai, pengelolaan portofolio bisnis yang lebih optimal, serta percepatan eksekusi strategi secara berkelanjutan.
Sebagai pilar transformasi keempat, Telkom tengah menjalankan modus-operandi shift, yakni perubahan dari operating holding menjadi strategic holding. Perubahan tersebut dilakukan dengan delayering untuk memperkuat fokus bisnis di empat segmen operating company (OpCo), yakni segmen B2C, B2B infrastructure, B2B ICT, dan internasional.
Telkom sebagai entitas strategic holding nantinya akan berfokus pada sinergi penciptaan nilai dan penguatan tata kelola antarsegmen. Sementara itu, operasional bisnis dijalankan di entitas OpCo dengan lini usaha yang terfokus.
Baca juga: CEO Harus Adaptif di Tengah Tekanan Global, Bos Anak Usaha Telkom Ini Buktikan Lewat Penghargaan
Transformasi tersebut diharapkan semakin memperkuat fundamental perusahaan dan mengharmonisasi lini bisnis sehingga tidak terjadi tumpang tindih, sekaligus meningkatkan penciptaan nilai yang berkelanjutan.
Perubahan Kebijakan Akuntansi dan Penyajian Laporan Keuangan
Sebagai tindak lanjut agenda total governance reset yang diamanatkan Danantara Indonesia, Telkom melakukan penyelarasan kebijakan akuntansi guna meningkatkan akurasi penyajian laporan keuangan. Penyelarasan tersebut termasuk memastikan prinsip yang digunakan dalam menentukan satuan masa manfaat dan klasifikasi aset menjadi lebih tepat.
Hal tersebut menyebabkan performa laba bersih mengalami kontraksi sebesar 9,5 persen year-on-year (YoY) sebagai dampak peningkatan beban percepatan depresiasi. Seiring penerapan kebijakan tersebut, perseroan turut melakukan restatement atas laporan keuangan tahun 2023 dan 2024.
Inisiatif tersebut sekaligus memperkuat praktik tata kelola yang transparan, prinsip kehati-hatian, dan disiplin dalam pengelolaan aset, sejalan dengan implementasi pilar pertama TLKM 30, yakni operational and service excellence.
Pemulihan Pasar di Segmen B2C
Segmen B2C, yang terdiri dari mobile dan fixed broadband masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perseroan. Telkomsel sebagai OpCo yang fokus pada segmen B2C berhasil membukukan pendapatan tahun buku 2025 sebesar Rp 109,2 triliun secara konsolidasian.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan digital berkualitas mendorong kenaikan signifikan trafik data sebesar 15 persen YoY. Average revenue per user (ARPU) juga bergerak ke arah pemulihan positif yang menunjukkan kondisi pasar yang lebih stabil mulai dari paruh kedua 2025.
Baca juga: Sinergi Telkom dan PGN, Integrasikan Infrastruktur Digital dan Energi Hijau
ARPU tersebut diperkirakan akan terus meningkat secara bertahap, sejalan dengan kompetisi industri yang lebih sehat. Oleh karena itu, pada 2026, Telkomsel akan terus fokus menjaga ARPU melalui penyesuaian harga yang tepat sasaran dan memastikan keunggulan kualitas jaringan guna menekan angka perpindahan pelanggan.
Langkah tersebut diiringi dengan penguatan ekosistem digital agar layanan Telkomsel tetap relevan bagi masyarakat. Di sisi lain, ekspansi layanan internet rumah kini dilakukan secara lebih tajam dengan memperhatikan kemampuan belanja masyarakat serta memastikan efektivitas pemanfaatan modal untuk menjaga pertumbuhan perusahaan yang sehat secara jangka panjang.
Kinerja Resilien pada Segmen B2B Infrastructure, International, dan B2B ICT
Pada segmen B2B infrastructure, melalui sinergi kekuatan dan kepemilikan infrastruktur yang ekstensif, TelkomGroup terus mempercepat pembangunan infrastruktur digital nasional.
Percepatan tersebut mencakup backbone serat optik dengan total lebih dari 210.000 km, menara telekomunikasi yang tersebar di seluruh Nusantara, layanan data center dan cloud, serta konektivitas satelit untuk menjangkau area blank spot dan wilayah geografis yang menantang.
Langkah itu sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung ketahanan digital Indonesia yang inklusif. Selaras dengan strategi transformasi dan penguatan posisi sebagai perusahaan telekomunikasi digital terdepan di Indonesia, pendapatan perseroan dari segmen B2B Infrastructure tercatat sebesar Rp 8,9 triliun atau tumbuh 9,2 persen YoY yang ditopang oleh bisnis data center dan ekspansi bisnis fiber.
Pendapatan bisnis data center diperoleh dari dua fasilitas hyperscale data center di Cikarang dan Singapura, tiga fasilitas enterprise data center di Serpong, Surabaya, dan Sentul, serta dua fasilitas co-location data center di Singapura yang seluruhnya dikelola oleh NeutraDC.
Baca juga: Telkom Tingkatkan Kapabilitas Developer di Makassar Lewat AI Connect Offline Series
Baca tanpa iklan