TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Tekanan bertubi-tubi di pasar saham membuat investor ritel mulai resah, antara portofolio sahamnya dibiarkan untuk jangka panjang atau di cut loss (menjual saham di harga lebih rendah dari belinya).
Menjelang penutupan perdagangan Kamis (21/5/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pukul 15.41 WIB, sudah ambles 3,60 persen atau 227,52 poin ke level 6.090,98.
Bahkan jika melihat data Bursa Efek Indonesia (BEI) satu pekan, IHSG sudah turun 19,74 persen dan 6 bulan anjlok 27,61 persen.
Baca juga: Efek Pidato Prabowo Soal Ekspor SDA Wajib Melalui BUMN Bikin IHSG Ambruk 3,5 Persen di Level 6.091
Fauzi salah satu investor ritel dengan nilai portofolio sahamnya Rp60 juta, mengaku bingung harus berbuat apa lagi.
"Saya sudah average down (membeli kembali saham yang sudah dimiliki dengan harga lebih murah) berkali-kali tapi masih turun," ujar Fauzi kepada Tribunnews, Kamis (21/5/2026).
Fauzi mengaku memiliki saham PT Dian Swastatika Sentosa (DSSA) di harga Rp3.200 per saham, tetapi sekarang sudah anjlok di level Rp615 per saham.
"Minusnya 78 persen waktu itu, sebagian sudah di cut loss rugi Rp15 jutaan, sekarang minusnya 40 persen saham DSSA karena udah di average down," paparnya.
Selain DSSA, Fauzi juga memiliki saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) diharga Rp260 dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) diharga Rp6.500 per saham.
"Semuanya minus, BUMI sama BBCA cuman inves Rp5 juta masing-masing," ucapnya.
Diketahui, saham BUMI saat ini di level Rp165 per saham dan BBCA Rp5.950 per saham.
Hal yang sama juga dirasakan Rizki, Ia mengaku memiliki saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET).
Masing-masing sahamnya sudah ambles 50 persen lebih.
"DEWA saya punya diharga Rp792, sekarang harganya Rp334. INET diharga Rp534, sekarang turun Rp218 per saham. Ini semua sudah di average down, sampai bingung mau didiemin atau dicutloss," papar Rizki.
"Total saya sudah Rp16 jutaan potensi loss," sambungnya.
Baca tanpa iklan