News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tak Ada Pergantian Menkeu, Pengamat Tanggapi Rupiah dan IHSG yang Kompak Menguat

Editor: Choirul Arifin
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IHSG DITUTUP MENGUAT - Indeks Harga Saham Gabungan (IHS) ditutup meroket 7,57 persen atau naik 404,51 poin ke level 5.746,65 pada penutupan perdagangan Selasa, 9 Juni 2026. Kenaikan indeks ini didorong oleh euforia pasar terhadap kebijakan suku bunga dan sentimen positif dari aksi buyback saham yang dilakukan oleh sejumlah emiten BUMN.

Langkah tersebut kemudian membantu mendorong rebound IHSG dan penguatan rupiah.

Meski demikian, Aditya mengingatkan bahwa penguatan IHSG dan rupiah tidak dapat dikaitkan hanya dengan meredanya rumor reshuffle kabinet.

Menurutnya, pergerakan pasar keuangan dipengaruhi banyak faktor, antara lain arus modal asing, kebijakan suku bunga, kondisi ekonomi global, sentimen terhadap dolar AS, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia.

Baca juga: Sesi 1 IHSG 9 Juni 2026 Ditutup Menguat 4,82 Persen ke Level 5.599,74

"Meredanya rumor reshuffle kemungkinan menjadi salah satu katalis positif yang mengurangi kepanikan pasar. Namun, itu bukan satu-satunya faktor yang menentukan penguatan IHSG dan rupiah pada hari ini," ujarnya.

Pengamat menilai sentimen stabilitas kebijakan turut menopang kepercayaan pasar. Pengajar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti mengatakan, penguatan IHSG tidak lepas dari persepsi investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas kebijakan fiskal nasional.

"Yang utama, jika aliran modal besar masuk ke Indonesia dan devisa negara banyak, maka nilai rupiah tidak terdepresiasi," ujar Esther.

Ia menjelaskan, untuk bisa menarik aliran modal masuk, Indonesia harus memenuhi sejumlah syarat mendasar yang menjadi pertimbangan investor global.

Pertama, kepastian hukum untuk berbisnis di Indonesia. Kedua, prospek ekonomi pasar yang baik. Ketiga, ketersediaan bahan baku yang memadai.

"Keempat, ekosistem yang mendukung. Kelima, integrasi rantai pasok global. Keenam, ketersediaan infrastruktur energi, listrik, air dan lainnya yang baik. Ketujuh, harmonisasi peraturan antar instansi baik pusat maupun daerah," paparnya.

Esther menegaskan, stabilitas di level kementerian, memberi sinyal positif bagi investor karena mengurangi ketidakpastian kebijakan jangka pendek.

Menurutnya, jika ketujuh faktor tersebut bisa dipenuhi, maka aliran modal asing akan lebih mudah masuk dan memperkuat nilai tukar rupiah serta pasar modal domestik.*

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini