TRIBUNNEWS.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan pemakaian alat pelindung diri (APD) yang belum sesuai dengan standar Kemenkes dapat digunakan oleh tenaga kesehatan.
Kendati demikian penggunaan APD tersebut hanya diperbolehkan oleh tenaga medis di area yang memiliki tingkat resiko terpapar virus corona (Covid-19) yang rendah.
Hal ini disampaikan oleh Sekdirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemenkes, Drg. Arianti Anaya, MKM saat konferensi pers di Graha BNPB, Jumat (16/4/2020).
"Untuk APD yang belum sesuai dengan standar bahan dan standard uji yang ada dalam pedoman dari Kemenkes tetap dapat digunakan," ujarnya yang dikutip dari YouTube BNPB Indonesia.
"Tetapi harus digunakan di area-area yang memiliki tingkat resiko rendah," imbuhnya.
Adapun tenaga medis yang dimaksud seperti tenaga kefarmasian, gizi, serta pengendara ambulans.
"Nah ini mereka dapat menggunakan APD non medis. Dan APD ini tidak memerlukan izin edar," jelas Arianti.
Lebih lanjut, Arianti mengimbau kepada seluruh tenaga kesehatan agar cermat dalam memilih dan menggunakan APD sesuai dengan tingkat resiko yang dilakukan dalam menangani pasien Covid-19.
"Karena pemilihan APD yang baik akan melindungi tenaga kesehatan dari tertularnya virus tersebut," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Arianti juga menekankan pesan pencegahan penularan Covid-19 yang wajib dilakukan oleh masyarakat.
Pertama, kata Arianti adalah rajin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir minimal 20 detik.
Baca: Permintaan Tinggi, Kemenkes Berikan Kemudahan Perizinan untuk Pembuatan APD
Baca: Bocah 9 Tahun Sumbang Tabungan untuk Belikan APD, Ibu: Awalnya Buat Biaya Pernikahan Kakaknya
Kedua, selalu menggunakan masker apabila berada di tempat umum.
Jangan lupa terapkan physical distancing dengan menjaga jarak aman sejauh satu hingga dua meter saat sedang berinteraksi atau berkomunikasi.
Maksimalkan kegiatan di rumah saja, yakni belajar, bekerja, dan beribadah di rumah serta tidak melakukan mudik.