News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Virus Corona

Imbas Banyak Kerumunan Jelang Lebaran Kemarin, DPRD DKI: Pemprov Harus Antisipasi Lonjakan Kasus

Penulis: Danang Triatmojo
Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Warga saat berbelanja di tengah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (18/5/2020). Pedagang kembali meramaikan pasar Tanah Abang, saat Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali memperpanjang penutupan sementara Pasar Tanah Abang hingga 22 Mei 2020 untuk mengurangi kerumunan orang di ruang publik guna mencegah penyebaran COVID-19.

Laporan wartawan tribunnews.com, Danang Triatmojo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Fraksi PDI-Perjuangan di DPRD DKI berharap Pemprov DKI menaruh fokus pada antisipasi kemungkinan lonjakan kasus sekitar 3-4 pekan setelah tanggal 23 Mei 2020, menyusul terbentuknya kerumunan tanpa jarak dan masker di pasar-pasar.

"Harus diantisipasi kemungkinan lonjakan kasus sekitar 3-4 minggu setelah tanggal 23 Mei," kata Anggota Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak kepada wartawan, Selasa (26/5/2020).

Sebab menurut Gilbert, terasa terjadi kelonggaran sepekan sebelum lebaran yang tercermin dari sejumlah kejadian.

Selain di pasar - pasar, sebelumnya telah diawali dengan peristiwa kerumunan orang di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat saat seremoni penutupan sebuah gerai makanan cepat saji asal amerika serikat.

Baca: Pasien Sembuh Bertambah Jadi 5.877 Orang, DKI Jakarta Masih Terbanyak

Ia mengatakan imbauan saja tidak cukup, masyarakat harus dididik.

Pelarangan berkerumun harus dibarengi tindakan penegakkan hukum.

"Tidak cukup dengan mengatakan masyarakat harus sadar seperti yang berkali-kali disampaikan di media oleh Anies," ungkap dia.

Baca: Butuh Solidaritas dan Kepatuhan Warga untuk Hadapi New Normal Pandemi Covid-19

Anggota Komisi B ini menilai penularan virus antar warga lokal jauh lebih berbahaya seperti pada kasus 1 dan 2 yang bermula dari warga Depok, kemudian berkembang menjadi se Indonesia.

"Penularan lokal lebih berbahaya karena penyebarannya seperti awal wabah dari 2 kasus di Depok menjadi se Indonesia," kata  dia.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda

Berita Populer

Berita Terkini