TRIBUNNEWS.COM - Perjalanan menuju Tanah Suci tak selalu ditempuh dengan jalan mudah.
Bagi Taruno Tanoyo, seorang jemaah haji lansia yang tergabung dalam kloter 1 embarkasi Yogyakarta (YIA), keberangkatan tahun ini adalah buah dari perjuangan panjang sebagai petani dan peternak selama bertahun-tahun.
Dengan penghasilan yang tak menentu, ia mengaku menabung sedikit demi sedikit selama kurang lebih 10 tahun.
Nominalnya pun jauh dari kata besar, kadang hanya Rp5.000 hingga Rp10.000 per hari. Bahkan warga Kulonprogo itu tak jarang tidak bisa menabung sama sekali.
"Seharinya tidak tentu, kadang-kadang isi, kadang-kadang kosong," ujarnya menggambarkan kondisi ekonominya kepada tim Media Center Haji, Kamis (30/4/2026).
Meski begitu, tekad pria yang menjadi Abdi Dalem Pura Pakualaman, Yogyakarta sejak tahun 1965 itu tak pernah surut.
Ia terus menyisihkan uang setiap kali ada rezeki, hingga akhirnya mampu memenuhi setoran awal biaya haji bersama sang istri, Sumarni.
Baca juga: Selamat dari Kecelakaan Maut, Rukhayah Wujudkan Haji Setelah 13 Tahun Penantian
Bahkan menjelang keberangkatan, ia menjual 14 ekor kambing sebagai tambahan biaya dan bekal selama berhaji.
"Kemarin kambingnya banyak, sekarang sudah habis dijual untuk tambahan berangkat naik haji, buat jaga-jaga," ujarnya.
Sehari-hari, aktivitas menggembala kambing justru menjadi bagian dari persiapan fisiknya.
Ia terbiasa berjalan dan berlari kecil saat mengurus ternaknya, yang tanpa disadari menjadi latihan kebugaran menjelang ibadah haji.
"Angon (menggembala) kambing itu sekalian olahraga," tutur
Bagi Taruno dan Sumarni, ini merupakan haji pertama keduanya. Meski sebelumnya mereka pernah menunaikan ibadah umrah bersama keluarga pada tahun 2018.
Saat berangkat kali ini, ia mendapat dukungan penuh dari keluarga besar yang terdiri dari lima anak, 10 cucu, hingga 25 cicit.
Baca tanpa iklan