News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Ikuti jejak Arab Saudi, kini Israel memberangus Al Jazeera

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Israel berusaha untuk menutup kantor penyiar Qatar Al Jazeera di negara tersebut dan mencabut izin bagi para wartawannya.

Menteri Komunikasi Israel Ayoub Kara menuduh bahwa saluran tersebut mendukung terorisme, dan mengatakan bahwa saluran bahasa Arab dan bahasa Inggrisnya akan diblokir.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh jaringan televisi Qatar itu 'menghasut.'

Al Jazeera mengutuk keputusan tersebut.

Pemerintah Israel mengatakan bahwa mereka mendasarkan keputusan itu atas larangan serupa yang diberlakukan Arab Saudi dan sejumlah negara Arab Sunni lain, menyusul sengketa diplomatik mereka dengan Qatar, yang merupakan pendana Al Jazeera.

Ayoub Kara mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan penyedia layanan TV kabel telah sepakat untuk mencabut jaringan itu dari udara, namun upaya untuk menutup biro Al Jazeera di Yerusalem akan memerlukan ketentuan hukum lebih lanjut.

"Al Jazeera telah menjadi alat utama Daesh (kelompok yang menamakan diri negara Islam atau ISIS), Hamas, Hizbullah dan Iran," katanya dalam sebuah konferensi pers.

Dokumentasi tahun 2011 menunjukkan unjuk rasa warga Palestina di Yerusalem mengutuk Al Jazeera.

Netanyahu memuji Ayoub Kara melalui cuitannya, "yang melaksanakan instruksi saya untuk mengambil langkah nyata untuk mengakhiri hasutan-hasutan Al Jazeera."

Seorang pejabat Al Jazeera di ibukota Qatar, Doha, mengatakan kepada AFP bahwa mereka"menyesalkan tindakan dari sebuah negara yang mengaku sebagai satu-satunya negara demokratis di Timur Tengah, dan menganggap apa yang mereka lankukan itu merupakan langkah berbahaya".

Netanyahu menuduh saluran TV pan-Arab tersebut menyulut krisis di kawasan yang bagi orang Islam disebut al-Haram al-Sharif dan bagi penganut Yahudi disebut Bukit Bait Suci atau Temple Mount.

Saat itu, langkah keamanan Israel menyusul tewasnya dua polisi mereka di sekitar kawasan itu memicu demonstrasi warga Palestina.

Pada akhir Juli lalu, Perdana Menteri Israel menyatakan akan 'mengusir Al Jazeera' terkait laporan mereka atas masalah itu, yang dinilai Israel telah memicu kekerasan.

Pimpinan Al Jazeera menyangkal dan mengatakan bahwa liputan mereka "profesional dan objektif".

Editor jaringan itu di Yerusalem menuduh Netanyahu berkolusi dengan tetangga-tetangga Arab mereka yang otokratis dalam melancarkan serangan terhadap media bebas dan independen.

Sejumlah warga Palestina membakar poster dengan logo Al-Jazeera di kawasan kota tua Yerusalem, dalam sebuah foto dokumentasi beberapa tahun lalu.

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini