News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Mengapa lebih banyak perempuan Inggris menjadi petani?

AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Baginya pertanian bahkan membuatnya bisa mengasuh anak sambil tetap bekerja. Ketika anaknya masih bayi, Liz menggendongnya dengan kain di punggung. "Saya tak yakin bisa melakukan ini kalau kerja kantoran," katanya.

Ada ruginya juga punya bayi sambil bekerja. Anak Liz lahir saat musim melahirkan bagi sapi-sapinya. Liz menggambarkannya "saat-saat yang sibuk luar biasa".

Saat itu sebagai ibu yang baru melahirkan, Liz mengawasi sapi-sapinya lewat laptop di tempat tidur rumah sakit.

Pertanian di perkotaan juga kini menarik perempuan muda. Contohnya adalah Sinead Fenton, 28 tahun, yang bertanam sayuran dan tanaman pangan lain di lahan kecil di London Timur.

Menurutnya, ia punya "hubungan buruk" dengan makanan ketika kecil dan selalu cemas terhadap hal baru.

"Saya terbiasa sekali dengan makanan siap saji, dan tak mengerti makanan yang dimasak sendiri," kata Sinead. Ia mengaku sebelumnya hidup dengan makanan instan.

Namun ketika ia bekerja di Mongolia pikirannya berubah. "Kami berada di gurun bersama seekor kambing. Tak lama, kambing itu menghilang dan kami makan daging kambing," katanya.

"Itulah pertama kali saya melihat bahwa daging itu tak selalu berasal dari pasar swalayan".

Saat itu Sinead, lulusan geologi, sedang bekerja di pertambangan. Ia kemudian beralih ke bidang yang menurutnya lebih berkelanjutan.

Sinead beralih karier dari industri pertambatangan ke pertanian dengan bertanam sayur mayur.

Saat ini Sinead merasa bangga terkait apa yang telah ia capai dari bercocok tanam sayur mayur.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini