Semakin sedikit kapal kontainer yang berlayar melalui Laut Merah. Menurut portal statistik Statista, pada 9 Juli hanya 32 kapal barang yang berlayar melalui selat Bab al-Mandab. Padahal 1 Desember 2023 lalu jumlahnya masih sekitar 100 kapal.
Aksi sabotase laut oleh pemberontak Houthi di Yaman adalah penyebab kemuduran lalu lintas kapal di Laut Merah. Houthi, yang bersekutu dengan Iran, mengatakan penembakan kapal kontainer adalah bentuk dukungan bagi Palestina dalam perang melawan Israel.
Selat Bab al-Mandab adalah salah satu jalur transportasi terpenting antara Laut Merah dan Teluk Aden. Wilayah perairan ini adalah jalan keluar lanjutan dari Terusan Suez. Sebelum serangan tersebut, sekitar sepertiga perdagangan global melewati selat antara Yaman dan Djibouti itu dan sebanyak 40 persen perdagangan antara Eropa dan Asia.
Meningkatnya risiko keamanan di Laut Merah ditanggapi perusahaan pelayaran dengan mengambil rute memutar di selatan Afrika. Rute ini memperlambat waktu perjalanan sekitar 14 hari lebih lama. Ongkos operasional juga meningkat drastis lantaran tingginya biaya asuransi.
Pada akhir tahun 2023, pelanggan harus membayar USD1.700 atau sekitar Rp26 juta untuk kontainer standar dari Shanghai ke Amsterdam. Saat ini, biaya pengiriman kontainer yang sama ke tujuan yang sama adalah sekitar USD8.300 atau Rp129 juta.
Kalkulasi Cina
Berdasarkan perjanjian dengan pemberontak Houthi pada musim semi 2024, kapal-kapal berbendera Cina dan Rusia akan dibebaskan dari sasaran penembakan. Namun sebagian besar kapal kontainer milik Cina terdaftar di Panama, Bermuda atau Bahama untuk tujuan perpajakan, menurut laporan dari Pusat Keamanan Maritim Internasional, CIMSEC, di negara bagian Maryland, AS.
"Karena sulitnya menentukan kepemilikan kapal tersebut, maka hanya masalah waktu saja sebelum kapal milik Cina atau kapal yang membawa pelaut Cina diserang,” demikian laporan CIMSEC.
Dilihat dari hal ini, serangan milisi Houthi secara tidak langsung juga menghambat perekonomian di Cina. Sebabnya Beijing kini memanfaatkan kedekatan dengan Iran. Teheran harus menekan sekutunya di Yaman untuk tidak menembaki kapal dagang Tiongkok.
"Jika Houthi tidak mengendalikan diri dan kepentingan Cina dirugikan, perdagangan Cina-Iran akan terpengaruh,” kantor berita Reuters mengutip pernyataan seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya pada awal tahun 2024.
Ayo berlangganan gratis newsletter mingguan Wednesday Bite. Recharge pengetahuanmu di tengah minggu, biar topik obrolan makin seru!
Pemerintah di Beijing jelas mempunyai pengaruh terhadap Iran, kata Johann Fuhrmann, kepala kantor Yayasan Konrad Adenauer yang berafiliasi dengan CDU di Beijing.
"Cina adalah mitra dagang terbesar republik Islam. Dengan dukungan Beijing, rezim para mullah selalu terlihat di panggung internasional sebagai anggota penuh BRICS dan Organisasi Kerjasama Shanghai, SCO. Tiongkok juga mengadakan latihan militer bersama dengan Republik Islam Iran dan Rusia Bagaimanapun, Cina menjadi perantara antara Iran dan saingannya Arab Saudi pada tahun 2023 dan sudah menghasilkan perjanjian pertama,” kata dia.
Namun, pertanyaannya adalah apakah Cina siap untuk menggunakan seluruh pengaruhnya, lanjut Fuhrmann. Di Beijing ada ketakutan bahwa mereka tidak akan mampu mencapai banyak hal di Teheran dan pada akhirnya juga di Laut Merah. "Cina juga menilai perkembangan tersebut dari perspektif konflik menyeluruh dengan AS. Di sini juga, mereka mementingkan perbedaan antara AS dan Cina.”
Beijing menggambarkan AS setidaknya ikut bertanggung jawab atas penembakan di Laut Merah. "Jika AS dapat membuka jalan bagi gencatan senjata di Gaza, masalah Laut Merah akan terselesaikan,” begitu judul berita utama surat kabar Global Times pada bulan Desember 2023.
Ketika AS kemudian melancarkan beberapa serangan udara terhadap Houthi pada bulan Januari 2024, Cina mengkritik betapa "perdamaian di Laut Merah tidak dapat dipulihkan dengan cara militer,” tulis Global Times pada 12 Januari.
Iran ingin "pertahankan” status quo
Namun bahkan jika Cina mencoba mempengaruhi Houthi melalui Teheran, masih diragukan apakah taktik itu akan berhasil, kata Hamidreza Azizi, pakar Iran di Berlin Science and Politics Foundation, SWP.
Baca tanpa iklan