Misinformasi dan disinformasi, semakin kerap dilihat sebagai penyebab utama keberhasilan politik yang tak terduga. Günther mengutip contoh dibatalkannya hasil pemilu presiden Rumania pada 2024. Masalahnya menurut peneliti demokrasi ini, sering kali argumen dasarnya adalah hipotesis yang kedengarannya masuk akal, tetapi belum teruji.
Ilmuwan tersebut menganggap hal ini berbahaya. "Jika ada yang berasumsi bahwa berita palsu secara signifikan mendistorsi hasil pemilu, mengapa orang harus menganggap serius hasil ini?" tanya Laurenz Günther. Dan jika setiap kekalahan politik hanya dapat dijelaskan oleh propaganda tidak adil dari pihak lain, mengapa orang masih harus mengakui legitimasi lawan politik?
Di Jerman, saat ini tidak ada bukti pemilu mengarah pada perkembangan seperti di Rumania atau AS pada 2020. Kendati demikian, Günther mengkhawatirkan perkembangan selanjutnya, terkait perdebatan mengenai dugaan pengaruh berita palsu di Jerman. "Cara berpikir seperti ini merusak kepercayaan pada proses demokrasi, dan semakin menjadi norma dalam demokrasi Barat," pungkasnya.
Baca tanpa iklan