Negara-negara tersebut di antaranya Inggris, Kanada, Australia, Portugal, Prancis, Belgia, Andorra, Luxembourg, Malta, dan Monaco.
Trump menambahkan dengan mengatakan, "Kita harus segera menghentikan perang di Gaza. Kita harus segera bernegosiasi untuk mewujudkan perdamaian."
Setelah pertemuan di PBB pada hari Selasa, Macron dan Trump bertemu dalam konferensi pers.
Presiden Prancis menanggapi pernyataan presiden AS tersebut dengan mengatakan, "Salah total jika dikatakan (pengakuan Negara Palestina) ini adalah hadiah untuk Hamas. Ini satu-satunya cara untuk mengisolasi Hamas."
"Pemerintah Israel menetralisir semua pengambil keputusan militer dalam gerakan Islam Palestina," kata Macron, merujuk pada pembunuhan para pemimpin militer Hamas di Gaza sejak 2023 hingga 2025.
"Kami mengisolasi Hamas," lanjutnya.
Presiden menambahkan bahwa satu-satunya hal yang harus dilakukan saat ini adalah menerapkan solusi dua negara tanpa melibatkan Hamas.
"Satu-satunya cara untuk melenyapkan Hamas adalah dengan mendirikan otoritas yang sah. Inilah yang sedang kita lakukan. Tidak ada inisiatif lain yang mengisolasi Hamas selain solusi dua negara," tambahnya.
"Tidak seorang pun melupakan 7 Oktober," kata Macron kepada wartawan saat ia duduk di sebelah Trump.
"Tetapi setelah hampir dua tahun perang, apa hasilnya? Ini bukan cara yang tepat untuk melanjutkan," tambahnya.
Solusi Dua Negara untuk Israel–Palestina
Gagasan solusi dua negara bermula dari Resolusi 181 PBB tahun 1947 yang membagi wilayah Palestina menjadi negara Yahudi (55 persen) dan negara Arab (45 persen), sementara Yerusalem–Betlehem ditempatkan di bawah pengelolaan internasional.
Komunitas Yahudi menyetujui rencana ini, tetapi pihak Arab menolaknya karena pada saat itu mayoritas penduduk adalah orang Palestina Arab.
Sebelumnya, sejak tahun 1922, Inggris mendapatkan mandat dari Liga Bangsa-Bangsa untuk mengelola Palestina setelah mengalahkan Kekaisaran Ottoman dalam Perang Dunia I.
Namun, sejak Deklarasi Balfour 1917, Inggris telah mendukung pembentukan “tanah air nasional Yahudi” di Palestina.
Hal ini mendorong gelombang imigrasi Zionis dan menimbulkan ketegangan dengan penduduk Arab setempat.
Baca tanpa iklan