Ketika mandat Inggris berakhir pada 14 Mei 1948, gerakan Zionis memproklamasikan berdirinya negara Israel, yang kemudian memicu perang Arab–Israel pertama.
Israel yang didukung Amerika Serikat berhasil memperluas wilayahnya hingga menguasai 78 persen Palestina, sementara Tepi Barat jatuh ke tangan Yordania dan Jalur Gaza dikuasai Mesir, sebagaimana dilaporkan Al Jazeera.
Tragedi ini dikenal sebagai Nakba (malapetaka), di mana sekitar 750.000 warga Palestina terusir dari rumah dan tanah mereka.
Dalam perang-perang berikutnya, khususnya Perang Enam Hari 1967, Israel merebut Tepi Barat, Gaza, Yerusalem Timur, Semenanjung Sinai, dan Dataran Tinggi Golan.
Meski Sinai dikembalikan kepada Mesir pada 1982, wilayah Palestina tetap berada di bawah pendudukan Israel, dengan pembangunan permukiman Yahudi yang terus meluas.
Berbagai upaya perdamaian dilakukan, termasuk Perjanjian Oslo 1993 yang membuka jalan bagi pengakuan terhadap PLO serta kembali menghidupkan gagasan solusi dua negara.
Namun, isu-isu besar seperti status Yerusalem, hak pengungsi Palestina, kekerasan yang terus terjadi, serta ekspansi permukiman Israel membuat penyelesaiannya semakin rumit.
Saat ini, solusi dua negara masih diakui PBB dan komunitas internasional sebagai kerangka utama perdamaian.
Meski demikian, kondisi di lapangan—mulai dari blokade Gaza, pendudukan Tepi Barat, hingga konflik berkepanjangan—membuat realisasinya semakin sulit tercapai.
Update Serangan Israel di Jalur Gaza
Sejak Oktober 2023, serangan Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 65.382 warga Palestina dan melukai setidaknya 166.985 orang, menurut data Kementerian Kesehatan Gaza pada hari Selasa.
Blokade bantuan kemanusiaan memperburuk krisis, dengan kelaparan yang sudah merenggut 440 jiwa, termasuk 147 anak-anak.
Sejak Mei 2025, serangan terhadap warga yang tengah mencari bantuan juga menewaskan 2.526 orang dan melukai lebih dari 18.511 orang, seperti diberitakan Anadolu Agency.
Serangan udara mematikan Israel telah meningkat di Kota Gaza pada hari Selasa dan pasukan darat telah maju di selatan kota, menewaskan sedikitnya 36 warga Palestina di seluruh wilayah kantong itu.
Israel menyalahkan Hamas atas kondisi ini, dengan merujuk pada Operasi Banjir Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan ratusan warga Israel serta menyandera sekitar 250 orang.
Meski sempat dilakukan pertukaran tahanan, masih ada sekitar 50 sandera yang ditahan di Gaza. Israel kemudian menutup total akses masuk ke wilayah tersebut dan melancarkan serangan besar-besaran, menghancurkan rumah, gudang bantuan, dan memaksa pengungsian massal.
Baca tanpa iklan