TRIBUNNEWS.COM - Kelompok Houthi di Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangan pesawat tak berawak yang menghantam kota pelabuhan Eilat di Israel selatan pada Rabu (24/9/2025).
Kota pelabuhan Eilat berjarak sekitar 297–341 kilometer dari Yerusalem, ibu kota Israel, tergantung rute yang ditempuh
Militer Israel mengatakan satu drone berhasil menembus pertahanan udara dan jatuh di wilayah Eilat di pesisir Laut Merah.
Serangan itu melukai sedikitnya 22 orang, termasuk dua korban dalam kondisi serius.
Dilansir dari Al Jazeera, juru bicara Houthi Yahya Saree menyebut operasi tersebut melibatkan sejumlah drone dan menargetkan Eilat serta Beersheba.
Ia menyebut serangan itu berhasil mengenai sasaran.
Hamdah Salhut, jurnalis Al Jazeera yang melaporkan dari Amman, Yordania, menambahkan bahwa ini bukan kali pertama Eilat menjadi sasaran drone Houthi.
Ia mengingatkan pekan lalu serangan serupa juga terjadi meski saat itu dicegat oleh Israel.
Otoritas medis Israel, Magen David Adom, melaporkan dua korban mengalami luka parah akibat pecahan peluru.
Sementara lainnya menderita luka sedang hingga ringan.
Polisi setempat telah menurunkan tim penjinak bom untuk memeriksa sisa drone di lokasi.
Baca juga: Yaman Berduka, Ribuan Pelayat Iringi Jenazah PM Houthi Korban Serangan Israel
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa setiap serangan ke wilayah Israel akan dibalas dengan “pukulan menyakitkan bagi rezim Houthi.”
Senada dengan itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memperingatkan kelompok Yaman itu akan “belajar dengan cara yang sulit.”
Menurut catatan Times of Israel, sejak Maret 2025, Houthi telah menembakkan hampir 90 rudal balistik dan sedikitnya 41 drone ke arah Israel.
Sebagian besar berhasil dicegat atau jatuh sebelum mencapai wilayah Israel.
Houthi berulang kali menegaskan bahwa serangan mereka adalah bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina di Gaza.
Kelompok ini menyatakan siap menghentikan operasi militer jika tercapai gencatan senjata di Gaza.
Menurut data Kementerian Kesehatan Gaza, lebih dari 65.000 orang tewas dan 165.697 lainnya terluka sejak 7 Oktober 2023.
Perang Israel-Hamas disebut sebagai puncak dari konflik panjang yang telah berlangsung lebih dari satu abad.
Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober, Israel melancarkan invasi darat ke Gaza pada 27 Oktober 2023.
Operasi militer tersebut menghancurkan infrastruktur Gaza dan memicu eksodus massal.
Meski angka korban tidak membedakan antara warga sipil dan militan, data ini kerap dijadikan rujukan oleh PBB dan pakar independen.
Profil Houthi Yaman
Nama Houthi semakin sering terdengar sejak perang Israel-Hamas pecah pada Oktober 2023.
Kelompok bersenjata asal Yaman ini melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel serta kapal-kapal di Laut Merah.
Aksi mereka memicu serangan balasan dari Amerika Serikat dan Inggris.
Dilansir BBC, Houthi atau Ansar Allah adalah kelompok politik dan milisi bersenjata dari Yaman utara.
Mereka berakar dari komunitas Syiah Zaidi, salah satu cabang minoritas Islam Syiah.
Baca juga: Gejolak Baru di Yaman: Houthi Gerebek Kantor PBB, Culik 11 Pekerja
Kelompok ini muncul pada 1990-an dan dipimpin Abdul Malik al-Houthi, menggantikan saudaranya, Hussein al-Houthi, pendiri gerakan tersebut.
Mereka menyebut diri bagian dari “poros perlawanan” yang didukung Iran bersama Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon.
Pada 2015, Houthi berhasil menguasai ibu kota Yaman, Sanaa, setelah menggulingkan Presiden Abdrabbuh Mansour Hadi.
Sejak itu, mereka menguasai sebagian besar wilayah barat Yaman, termasuk garis pantai Laut Merah yang strategis.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi telah berusaha merebut kembali wilayah tersebut.
Namun hingga kini upaya itu gagal menyingkirkan Houthi dari basis kekuatannya.
Kondisi ini membuat Houthi menjalankan pemerintahan de facto di wilayah kekuasaan mereka.
Mereka bahkan memungut pajak dan mencetak uang sendiri.
Konflik Yaman yang melibatkan Houthi telah menewaskan lebih dari 150.000 orang.
Perang itu juga menyebabkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia.
Jutaan orang terpaksa mengungsi, sementara hampir separuh penduduk Yaman bergantung pada bantuan internasional.
Baca juga: Israel Gempur Sanaa Yaman usai Houthi Tembakkan Bom Cluster, Tewaskan Warga Sipil
Washington dan Riyadh menuduh Iran memasok rudal balistik, drone, serta pelatihan militer bagi Houthi.
Teheran membantah tuduhan tersebut dan mengklaim hanya memberi dukungan politik.
Menurut analisis Universitas Cambridge yang dikutip BBC, Houthi tidak akan mampu beroperasi di level sekarang tanpa bantuan Iran.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan