Namun kelebihan beban jaringan dan efek sisa serangan Rusia tetap memicu pemadaman di ibu kota dan memengaruhi tekanan air, menurut pejabat setempat.
7. Rusia Serang Konvoi Bantuan PBB di Kherson
Pasukan Rusia menyerang konvoi bantuan PBB di wilayah Kherson, Ukraina selatan, pada Selasa (14/10/2025).
Baik Kyiv maupun PBB membenarkan insiden tersebut, meski tidak ada korban jiwa.
Menurut PBB, empat kendaraan konvoi yang ditandai jelas diserang menggunakan drone dan artileri Rusia saat mengirim bantuan ke kota garis depan Bilozerka.
Otoritas regional melaporkan tiga orang tewas akibat artileri Rusia di kota Kherson.
Sementara satu warga sipil lainnya meninggal setelah drone kecil menyerang mobil di kota terdekat, Nikopol.
8. Rusia Akan Pulihkan Listrik ke PLTN Zaporizhzhia
Seorang pejabat Rusia mengatakan gencatan senjata lokal diperlukan untuk memulai pekerjaan pemulihan listrik eksternal ke PLTN Zaporizhzhia.
Pekerjaan pemulihan disebut akan dimulai akhir pekan ini di pembangkit yang kini dikuasai Rusia.
PLTN yang diduduki secara ilegal itu telah menggunakan generator diesel selama tiga minggu untuk menjalankan pompa pendingin bahan bakar nuklir.
Ukraina menuduh Moskow sengaja memutus sambungan listrik eksternal guna menghubungkan PLTN ke jaringan energi Rusia.
Seorang diplomat Rusia bulan ini membantah tuduhan bahwa Moskow berencana menghidupkan kembali reaktor tersebut.
9. Trump Desak Putin Akhiri Perang Ukraina
Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan kritik terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (14/10/2025), Trump mengatakan Putin harus mengakhiri perang di Ukraina.
“Begini, saya sangat kecewa karena Vladimir dan saya memiliki hubungan yang sangat baik, mungkin masih baik,” kata Trump.
“Dia harus benar-benar menyelesaikan perang ini,” lanjutnya.
Trump menambahkan bahwa antrean panjang bensin di Rusia menunjukkan tekanan ekonomi yang akan menyebabkan “ekonominya runtuh.”
10. Boeing Dapat Kontrak Rp43 Triliun untuk Produksi Rudal Patriot
Boeing mengumumkan telah mengamankan kontrak senilai sekitar US$2,7 miliar atau sekitar Rp43 triliun.
Baca juga: Trump Peringatkan Putin, AS Siap Kirim Rudal Tomahawk ke Ukraina jika Rusia Tak Mau Hentikan Perang
Dana itu digunakan untuk memproduksi lebih dari 3.000 unit sistem pencari rudal pencegat Patriot Advanced Capability-3 (PAC-3).
PAC-3 merupakan bagian dari sistem pertahanan udara canggih buatan Lockheed Martin dengan total kontrak US$9,8 miliar atau Rp151,9 triliun (dengan asumsi kurs Rp15.500 per dolar).
Patriot menjadi salah satu sistem utama yang dipasok negara-negara Barat untuk membantu Ukraina menghadapi serangan rudal Rusia.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)
Baca tanpa iklan