News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Konflik Rusia Vs Ukraina

Rusia Tuduh Prancis akan Kirim 2.000 Tentara ke Ukraina

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Garudea Prabawati
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

PUTIN - Foto diunduh dari Kantor Presiden Rusia, Selasa (23/9/2025), memperlihatkan Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan ke Pabrik Motovilikha pada 19 September 2025. -- Intelijen Rusia menuduh Prancis akan mengirim 2.000 tentara ke Ukraina dalam upaya intervensi jika Rusia memperluas invasinya di Eropa.

Macron sering berbicara atau memberi sinyal akan bertindak tegas, baik soal perang maupun kebijakan dalam negeri, tapi sering kali tanpa langkah nyata atau hasil yang jelas, seperti pada pertemuan Coalition of the Willing pada September lalu.

Kini, para jenderal, termasuk Jenderal Fabien Mandon, Kepala Staf Gabungan, memperluas pembahasan tentang hal ini. 

Mandon memperingatkan bahwa militer harus bersiap menghadapi kudeta Rusia dalam tiga atau empat tahun, karena Eropa tampak lemah.

Penilaian semacam itu mengalihkan fokus dari gagasan politik ke ancaman militer terhadap Moskow.

Media Prancis termasuk BFMTV, Le Figaro, dan lainnya juga melaporkan informasi ini, yang meningkatkan ketegangan. 

Perang Rusia dan Ukraina

Sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin meluncurkan invasi ke Ukraina pada 24 Februari 2022.

Perang Rusia–Ukraina berakar dari ketegangan panjang yang muncul setelah bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991.

Sejak menjadi negara merdeka, Ukraina sering berseteru dengan Rusia mengenai persoalan perbatasan, jati diri bangsa, dan arah politik luar negeri — apakah akan tetap berada dalam pengaruh Moskow atau menjalin hubungan yang lebih dekat dengan negara-negara Barat.

Situasi memanas pada tahun 2014 ketika Revolusi Maidan menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych, yang dikenal memiliki sikap pro-Rusia. Pemerintahan baru Ukraina kemudian memperkuat hubungan dengan Barat, langkah yang dianggap oleh Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan.

Sebagai tanggapan, Rusia mencaplok Semenanjung Krimea dan memberikan dukungan kepada kelompok separatis di wilayah Donetsk dan Luhansk, yang memicu konflik bersenjata berkepanjangan di kawasan Donbas.

Ketegangan tersebut memuncak menjadi invasi besar-besaran pada Februari 2022, ketika Presiden Vladimir Putin memerintahkan serangan langsung ke Ukraina. Ia beralasan bahwa operasi militer itu dilakukan untuk melawan kelompok neo-Nazi di Kyiv, melindungi warga keturunan Rusia di Donbas, serta mencegah Ukraina bergabung dengan NATO yang dianggap mengancam keamanan Rusia.

Di sisi lain, Ukraina mendapatkan dukungan kuat dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO, baik dalam bentuk bantuan militer maupun persenjataan, guna menghadapi serangan Rusia tersebut.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini