TRIBUNNEWS.COM – Kendati gencatan senjata atau jeda perang di Gaza telah resmi diberlakukan, namun tekanan psikologis bagi tentara Israel nyatanya masih belum mereda.
Laporan terbaru Pusat Penelitian dan Informasi Knesset, dikutip KAN, mencatat 279 tentara Israel mencoba bunuh diri dalam periode Januari 2024 hingga Juli 2025.
Dari jumlah tersebut, 36 tentara dinyatakan tewas, sementara 12 persen insiden dikategorikan “sangat serius” dan 88 persen lainnya dalam tingkat sedang.
Hal ini menandai krisis mental serius di tengah konflik yang berkepanjangan antara Hamas dan Israel di Gaza dimulai sejak Oktober 2023.
Adapun tekanan mental paling berat dirasakan oleh tentara cadangan. Lantaran mereka harus meninggalkan kehidupan sehari-hari, bertugas di medan perang, dan menghadapi stres besar tanpa dukungan psikologis yang memadai.
Selain itu, durasi penugasan yang panjang dan intensitas operasi militer yang tinggi meningkatkan beban emosional mereka.
Alhasil banyak dari tentara cadangan tidak menerima pelatihan psikologis yang cukup untuk menghadapi tekanan perang, sehingga trauma yang dialami di medan tempur tidak diolah secara sehat.
Kondisi ini memunculkan krisis mental yang sering tidak terlihat dalam laporan resmi militer.
Para ahli menekankan bahwa tanpa intervensi psikologis yang tepat, tekanan ini dapat memperburuk kondisi mental tentara dan berpotensi meningkatkan risiko bunuh diri di masa depan.
Cerita Tentara Israel Alami Gangguan Mental
Baca juga: Perang Gaza Perang yang Paling Menguras Keuangan Israel, Banyak Warga Israel Alami Gangguan Mental
Banyak tentara cadangan dan veteran melaporkan gejala stres pasca trauma (PTSD), kelelahan emosional, hingga perasaan kehilangan arah dan makna setelah kembali dari medan tempur.
Salah satu tentara, Or (20), seorang prajurit pengintai penerjun payung, menceritakan pengalaman traumatisnya ketika mendekati reruntuhan rumah di Khan Younis, wilayah selatan Gaza.
“Di antara puing-puing, kami menemukan lima, mungkin enam mayat. Ada lalat di mana-mana, dan saya pikir anjing telah mencabik daging mereka. Dua di antaranya adalah anak kecil. Saya melihat tulang-tulang mereka,” katanya kepada Haaretz, dikutip Anadolu, Jumat (4/7/2025).
“Baunya tidak akan pernah hilang. Saya menyemprotkan deodoran berkali-kali, tapi aroma kematian itu tetap menempel di kulit saya,” tambahnya lirih.
Or mengaku bahwa setelah kejadian itu, ia segera dikirim kembali ke garis depan tanpa kepastian kapan bisa pulang.
Ia menggambarkan kehidupannya di medan perang seperti “mimpi buruk tanpa akhir”, di mana panas ekstrem, ledakan, dan rasa takut menjadi bagian dari rutinitas harian.
Baca tanpa iklan