TRIBUNNEWS.COM - Sebuah ledakan terjadi di sepanjang Garis Demarkasi Militer (MDL) yang memisahkan Korea Selatan (Korsel) dan Korea Utara (Korut), Kamis (20/11/2024).
Menurut laporan resmi Kementerian Pertahanan Seoul, ledakan terjadi sekitar pukul 09.20 waktu setempat di kawasan Paju, wilayah barat DMZ yang berada tak jauh dari Seoul.
Saat itu, seorang sersan Korsel staf berusia 24 tahun tengah melakukan misi untuk memeriksa kemungkinan keberadaan ranjau darat di sisi selatan garis perbatasan wilayah MDL yang merupakan salah satu tempat dengan ranjau terbanyak di dunia.
Ketika penyisiran dilakukan. tiba-tiba terjadi ledakan yang menghantam area patroli.
Militer Korsel menyebut korban memakai perlengkapan pelindung anti ranjau lengkap ketika insiden terjadi.
Meski demikian, guncangan ledakan cukup kuat hingga menyebabkan cedera serius pada pergelangan kaki.
Insiden ini terjadi hanya beberapa hari setelah Seoul mengajukan tawaran dialog militer kepada Pyongyang, upaya perdamaian pertama dalam beberapa tahun terakhir.
Hingga kini, otoritas militer masih menyelidiki penyebab pasti ledakan tersebut.
Mengutip laporan Yonhap, Pihak berwenang Korea Selatan menyatakan bahwa dugaan awal mengarah pada ledakan ranjau lama yang terpicu saat pasukan melakukan pemeriksaan jalur patroli.
Belum ada bukti yang menunjukkan adanya serangan langsung atau aktivitas mencurigakan dari Korea Utara.
Namun, militer tidak mengabaikan kemungkinan lain, termasuk penanaman ranjau baru oleh Korut.
Baca juga: Korea Utara Uji Coba Rudal Jelajah Saat Trump Kunjungi Korsel, Pyongyang Sebut untuk Musuh-Musuhnya
Kemungkinan ini muncul karena peristiwa serupa pernah terjadi pada 2015, ketika dua tentara Korsel kehilangan kaki akibat ranjau yang terbukti ditanam oleh pasukan Korut di jalur patroli selatan.
Bagi pengamat keamanan regional, potensi eskalasi tetap ada, terutama karena insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan militer dan retorika keras dari Pyongyang sepanjang tahun 2024.
Terlebih sedikitnya sudah 10 pelanggaran lintas batas yang dilakukan pasukan Korut sejak awal tahun, Alasan itu yang mendorong pejabat keamanan Korea Selatan untuk waspada.
Mereka menilai bahwa insiden ini kecil kemungkinannya langsung memicu perang, mengingat belum ada indikasi provokasi terbuka dari Korea Utara.
Baca tanpa iklan