TRIBUNNEWS.COM - Kumpulan berita populer internasional dimulai dari pertemuan selama 5 jam antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan para utusan dari Amerika Serikat guna membahas perang di Ukraina.
Sementara itu, Israel memamerkan sistem pertahanan udara baru mereka, Iron Beam.
Selengkapnya, berikut berita populer internasional dalam 24 jam terakhir.
1. 5 Jam Bertatap Muka dengan Utusan AS, Putin Ngotot Soal Wilayah Ukraina
Upaya diplomatik terbaru untuk mengakhiri konflik di Ukraina menemui jalan buntu.
Setelah selama lima jam bertatap muka antara Presiden Rusia Vladimir Putin dengan utusan khusus Amerika Serikat (AS), Steve Witkoff, keduanya tak menemui kesepakatan.
Seorang pejabat senior Rusia menegaskan "tidak ada kompromi" yang dicapai terkait isu krusial integritas teritorial Ukraina.
Steve Witkoff yang ditemani oleh menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner bertemu dengan Putin di Ibu Kota Rusia pada Selasa (2/12/2025).
Meskipun pembicaraan berlangsung "sangat berguna dan konstruktif" menurut ajudan utama Kremlin, Yuri Ushakov, ia menekankan perundingan tersebut belum membuahkan hasil konkret.
"Sejauh ini kami belum menemukan kompromi, tetapi beberapa solusi Amerika dapat didiskusikan," ujar Ushakov, mengutip Al Jazeera.
Dirinya menggarisbawahi kebuntuan mendasar pada masalah wilayah yang dikuasai Rusia.
Delegasi AS membawa proposal perdamaian yang telah diperbarui, menyusul kritik keras dari Ukraina dan sekutunya terhadap draf 28 poin sebelumnya yang dinilai terlalu memihak Moskow.
Namun, usulan balasan dari Kyiv dan Eropa telah dikecam oleh Kremlin, dan Presiden Putin berulang kali menyebutnya "tidak dapat diterima".
Baca juga: Depot Minyak Rusia Terbakar usai Ukraina Lancarkan Serangan Drone, Sejumlah Tangki Bahan Bakar Rusak
Di sisi lain, Ukraina mengecam sikap keras kepala Moskow.
Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha menyatakan di media sosial jelas Putin tidak memiliki keinginan untuk mengakhiri perang.
Secara terpisah, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, saat kunjungan ke Irlandia, menyerukan tercapainya "perdamaian yang bermartabat" dan mengungkapkan kekhawatiran bahwa sekutu-sekutu Kyiv bisa "kelelahan" atau kehilangan minat dalam proses perdamaian.
Baca tanpa iklan