News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Memanas

Iran Tak Minat Perang, tapi Siap Jika AS Pilih Intervensi Militer

Penulis: Yunita Rahmayanti
Editor: Nanda Lusiana Saputri
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

IRAN SIAP MERESPONS - Tangkapan layar YouTube Al Jazeera, Selasa (13/1/2026). Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, berbicara dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Senin (12/1/2026). Araghchi membuka opsi dialog dan juga memperingatkan Amerika Serikat (AS) bahwa Teheran siap berperang jika Washington ingin menguji kesiapan Iran.

Ringkasan Berita:

  • Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan Iran terbuka untuk dialog dengan AS.
  • Iran juga tak gentar untuk menanggapi setiap aksi militer AS, jika Presiden AS Donald Trump memilih melakukan intervensi militer di tengah demo anti-pemerintah di Iran.
  • Araghchi menuduh AS dan Israel berupaya memperburuk situasi di Iran.
  • Sebagai bagian dari ancaman, Trump akan mematok tarif 25 persen ke mitra dagang Iran.

TRIBUNNEWS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memperingatkan Amerika Serikat (AS), Teheran siap berperang jika Washington ingin "menguji" kesiapan Iran.

Peringatan itu disampaikan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengambil langkah militer sebagai respons atas tindakan keras pemerintah Iran terhadap demonstrasi anti-pemerintah yang berlangsung sejak 28 Desember.

Araghchi mengatakan saluran komunikasi dengan AS tetap terbuka di tengah gejolak yang sedang berlangsung, tetapi menekankan negaranya siap untuk semua opsi.

“Jika Washington ingin menguji opsi militer yang pernah mereka uji sebelumnya, kami siap untuk itu,” kata Araghchi dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera, Senin (12/1/2026).

Menteri tersebut mengingat bagaimana negaranya merespons dengan serangan ke pangkalan militer AS di Qatar dan Irak, setelah AS mengebom fasilitas nuklirnya pada Juni tahun lalu.

Ia menambahkank, Iran berharap AS akan memilih opsi bijak berupa dialog dan meninggalkan ancaman militer.

"Kami memperingatkan mereka yang mencoba menyeret Washington ke dalam perang untuk melayani kepentingan Israel," lanjutnya.

Dalam wawancara tersebut, Araghchi menyinggung meningkatnya jumlah korban jiwa, mengulangi pernyataan sebelumnya bahwa "unsur-unsur teroris" telah menyusup ke kerumunan demonstran dan menargetkan pasukan keamanan serta para demonstran.

Iran menyalahkan AS dan Israel yang dituduh memprovokasi kerusuhan di negara itu selama dua minggu terakhir.

Araghchi: Teroris Mossad Menyusup di Barisan Demonstran

Sebelumnya dalam pernyataan terpisah, Araghchi mengatakan AS berupaya memperburuk situasi di Iran agar mereka memiliki alasan untuk melakukan intervensi militer.

Baca juga: Khamenei Unggah Foto Trump Seperti Firaun, AS Beri Kode Serang Iran Paling Cepat Pekan Depan

“Sejak Trump mengancam akan campur tangan, protes telah berubah menjadi kekerasan berdarah untuk membenarkan intervensi,” kata Araqchi kepada konferensi para duta besar di Teheran, Senin (12/1/2026).

“Pernyataan presiden Amerika merupakan campur tangan dalam urusan internal negara,” katanya.

Ia juga menuduh sekutu AS, Israel, mengirim agen intelijen Mossad untuk memperburuk situasi di Iran.

"Kelompok teroris bersenjata telah menyusup ke barisan para demonstran," ujarnya, seraya menegaskan bahwa pemerintah memiliki bukti bahwa pasukan keamanan ditembaki dalam upaya untuk melebih-lebihkan jumlah korban.

"Teroris menerima dukungan dari pihak eksternal untuk menghasut demonstrasi," katanya, lalu menambahkan bahwa, "Agen Mossad ikut serta dalam demonstrasi untuk memicu kekerasan."

Setidaknya 500 orang tewas dalam demonstrasi yang terjadi sejak Desember lalu, yang dipicu oleh protes terhadap pemerintah atas memburuknya kondisi ekonomi di Iran dan meluas hingga menuntut perubahan politik.

Komentar Menteri Luar Negeri Iran pada hari Senin ditujukan untuk menjawab pernyataan Trump pada hari Minggu, yang mengatakan ia sedang mempertimbangkan opsi-opsi kuat untuk menanggapi kekerasan dalam protes anti-pemerintah di Iran, termasuk opsi intervensi militer.

AS mengambil posisi dengan menyatakan dukungan kepada para demonstran, sementara musuh bebuyutan Iran, Israel, mengonfirmasi bahwa agen mata-matanya sedang bekerja di Iran.

Trump, yang baru-baru ini memerintahkan penculikan Presiden Venezuela Nicolas Maduro dalam intervensi Pasukan Khusus AS, mengatakan pertemuan sedang diatur dengan Iran untuk bernegosiasi tentang program nuklirnya.

"Tetapi kita mungkin harus bertindak karena apa yang terjadi sebelum pertemuan tersebut," kata Trump pada hari Minggu (11/1/2026).

TRUMP MENJAMU NETANYAHU - Foto diambil dari FB PM Israel, Selasa (30/12/2025). Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bertemu dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di resor Mar-a-Lago miliknya di Florida, Senin (29/12/2025). (Facebook Kantor Perdana Menteri Israel)

Trump akan Beri Tarif 25 Persen ke Mitra Dagang Iran

AS tidak hanya mengeluarkan ancaman mengenai opsi militer terhadap Iran, namun juga memperluas sanksi terhadap mitra dagang Iran.

Trump mengatakan, negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran akan menghadapi tarif 25 persen untuk setiap bisnis yang dilakukan dengan AS.

Presiden dari Partai Republik itu mengumumkan keputusan tersebut dalam sebuah unggahan media sosial pada hari Senin, menyatakan keputusan itu final dan mengikat.

“Mulai sekarang juga, negara mana pun yang berbisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen untuk semua bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat,” kata Trump dalam sebuah unggahan di situs webnya, Truth Social, Senin.

Belum jelas negara mana yang mungkin terpengaruh, tetapi ekonomi besar seperti Rusia, Cina, Brasil, dan Turki semuanya berdagang dengan Iran, yang telah dilanda protes dan kerusuhan anti-pemerintah yang meluas selama seminggu terakhir.

Irak dan Uni Emirat Arab juga merupakan mitra dagang penting bagi Iran, menurut basis data Trading Economics, dikutip dari Al Arabiya.

AS telah lama menjatuhkan berbagai sanksi terhadap Iran, menyusul Revolusi Iran tahun 1979 yang membawa Ali Khamenei ke tampuk kekuasaan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.

Negara Paman Sam itu juga merasa terancam dengan program nuklir Iran, yang dikhawatirkan dapat memproduksi senjata nuklir dan mengubah keseimbangan kekuatan di Timur Tengah, meski Iran membantahnya.

Selain itu, AS mendukung Israel sebagai sekutu dekatnya di Timur Tengah yang memusuhi Iran karena menuduh Republik Islam tersebut mendanai kelompok perlawanan seperti Hizbullah, Hamas Palestina, Houthi Yaman yang menargetkan Israel.

Pada Juni lalu, AS mendukung Israel dalam perang 12 hari, dengan mengebom fasilitas nuklir Iran di berbagai wilayah sebelum akhirnya mengumumkan berakhirnya perang pada 24 Juni 2025.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini