News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

Antisipasi Kebocoran Data Sensitif, China Larang Penggunaan Software Keamanan AS dan Israel

Penulis: Andari Wulan Nugrahani
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

XI JINPING - Presiden China Xi Jinping menggelar pertemuan darurat dengan para pemimpin bisnis swasta terkemuka di negaranya, Senin (17/2/2025). Pemerintah China memerintahkan perusahaan-perusahaan domestik untuk menghentikan penggunaan sejumlah perangkat lunak keamanan siber buatan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Di tengah ketegangan tersebut, Beijing semakin menekankan pentingnya kemandirian teknologi untuk melindungi kepentingan nasionalnya.

Konflik Iran Vs Amerika

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran berakar pada kudeta 1953, ketika CIA bersama intelijen Inggris menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh setelah ia menasionalisasi industri minyak.

Operasi ini mengembalikan kekuasaan Shah Mohammad Reza Pahlavi yang pro-Barat dan menanamkan sentimen anti-Amerika yang kuat di Iran.

Ketegangan meningkat drastis setelah Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah dan mendirikan Republik Islam di bawah Ayatollah Ruhollah Khomeini.

Hubungan diplomatik putus total setelah mahasiswa Iran menyandera 52 warga AS di Kedutaan Besar Amerika di Teheran selama 444 hari, menciptakan permusuhan jangka panjang.

Pada dekade 1980-an, AS mendukung Irak dalam Perang Iran–Irak, termasuk bantuan intelijen, meski Saddam Hussein menggunakan senjata kimia.

AS juga terlibat langsung dalam konflik Teluk Persia.

Hubungan semakin memburuk ketika kapal perang AS menembak jatuh pesawat Iran Air Flight 655 pada 1988, menewaskan 290 orang.

Sejak 1984, AS menetapkan Iran sebagai negara pendukung terorisme dan memberlakukan sanksi ekonomi yang terus diperluas, terutama pada sektor energi.

Memasuki 2000-an, konflik berfokus pada program nuklir Iran.

Kesepakatan nuklir JCPOA pada 2015 sempat meredakan ketegangan, namun AS menarik diri pada 2018 di bawah Presiden Donald Trump dan kembali menjatuhkan sanksi berat.

Baca juga: Dalam 24 Jam, AS Diperkirakan Memulai Invasi Militer ke Iran

Ketegangan melonjak pada 2020 setelah AS membunuh Jenderal Qasem Soleimani, yang dibalas Iran dengan serangan rudal ke pangkalan AS di Irak.

Eskalasi berlanjut hingga 2025, ketika AS melancarkan serangan udara ke fasilitas nuklir Iran, memicu serangan balasan Teheran ke pangkalan AS di Timur Tengah.

Pada 2026, konflik memasuki babak baru dengan meletusnya protes massal di Iran akibat krisis ekonomi.

AS mengecam keras tindakan represif pemerintah Iran, sementara Teheran menuding Washington memicu kekacauan domestik, meningkatkan risiko konflik regional yang lebih luas.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini