TRIBUNNEWS.COM - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan dua kasus infeksi virus Nipah di wilayah timur India pada Kamis waktu setempat.
Virus langka ini dikenal memiliki tingkat kematian tinggi dan hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus.
Virus Nipah pertama kali teridentifikasi di Malaysia pada 1999 dan dinamai sesuai desa tempat kasus awal ditemukan.
Virus ini termasuk keluarga yang sama dengan campak, namun jauh lebih mematikan meski tidak semudah menular.
WHO mencatat lebih dari separuh penderita Nipah meninggal dunia.
Karena tingkat risikonya yang tinggi, virus ini diklasifikasikan sebagai patogen tingkat keamanan hayati tertinggi, setara dengan Ebola.
Cara Penularan
Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis, yakni menular dari hewan ke manusia.
Penularan paling sering terjadi melalui kontak langsung dengan kelelawar buah atau babi yang terinfeksi.
Konsumsi buah atau air nira kurma yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar juga menjadi jalur penularan utama.
Penularan antarmanusia bisa terjadi, tetapi umumnya melalui kontak sangat dekat dengan pasien yang terinfeksi.
Baca juga: Mengapa Virus Nipah Picu Kematian Tinggi? Dokter Jelaskan Penyebabnya
Gejala dan Dampak
Gejala biasanya muncul dalam empat hingga 14 hari setelah terpapar.
Tanda awal meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan.
Dalam banyak kasus, penyakit berkembang cepat hingga menyebabkan gangguan pernapasan, radang otak, koma, bahkan kematian.
Sebagian pasien yang selamat mengalami gangguan saraf jangka panjang, termasuk kelelahan kronis dan perubahan fungsi otak.
Baca tanpa iklan