Laporan terbaru menyebut perusahaan minyak milik negara Meksiko, Pemex, mengirim sekitar 20.000 barel minyak per hari ke Kuba dari Januari hingga September 2025.
Negara itu berupaya menyeimbangkan hubungannya dengan Kuba di tengah tekanan AS.
Mengapa AS Menginginkan Perubahan Rezim di Kuba?
Laporan WSJ menyebut pemerintahan Trump secara aktif bekerja sama dengan pihak internal di pemerintahan Kuba untuk memfasilitasi perubahan rezim di negara tersebut, yang saat ini dipimpin Presiden Miguel Diaz-Canel.
Laporan itu juga menyatakan bahwa penerapan strategi yang sama seperti di Venezuela mungkin tidak menghasilkan dampak serupa di Kuba.
Kuba terletak sekitar 150 kilometer dari negara bagian Florida di selatan AS.
Ribuan warga Kuba telah meninggalkan pulau itu menuju AS dengan alasan kesulitan ekonomi.
AS juga menuduh Kuba melindungi kelompok teroris transnasional seperti Hizbullah, menampung fasilitas intelijen Rusia, serta membangun kerja sama pertahanan dengan China.
Gedung Putih menyatakan bahwa tarif terhadap negara pengekspor minyak ke Kuba merupakan bagian dari keadaan darurat nasional yang dianggap mengancam keamanan AS.
Kuba telah lama terjebak dalam krisis bahan bakar, energi, obat-obatan, dan devisa akibat embargo ekonomi AS sejak 1960-an yang membatasi perdagangan dengan Havana.
Minyak bersubsidi dari Venezuela sebelumnya memungkinkan sistem negara yang bergantung pada minyak tersebut tetap berfungsi.
Dengan Venezuela tidak lagi menjadi pemasok utama, AS dinilai berupaya memanfaatkan situasi Kuba melalui dorongan perubahan rezim.
Jika perubahan rezim terjadi, perusahaan minyak AS yang asetnya disita saat Revolusi Kuba beberapa dekade lalu berpotensi menggugat Kuba untuk memperoleh kembali ratusan juta dolar.
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan