News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Shunga dan Wajah Terbuka Seksualitas Jepang pada Zaman Edo

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

SENI TRADISIONAL JEPANG - Poster pameran Sunga di Kabukicho Tokyo Jepang sampai dengan 15 Maret 2026 (Richard Susilo)

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO  — Shunga, seni erotis tradisional Jepang yang berkembang pesat pada periode Edo (1603–1868), kini semakin mendapat pengakuan sebagai bagian penting dari sejarah seni dan budaya Jepang. 

Dahulu dianggap sebagai hiburan populer masyarakat, shunga kini dipelajari secara serius oleh akademisi dan dipamerkan di museum-museum internasional.

"Pameran di Kabukicho ini yang kedua kalinya, sebelumnya dilakukan tahun lalu," papar kurator pameran Shoko Nakamura khusus kepada Tribunnews.com kemarin (16/2/2026).

Secara harfiah, shunga berarti “gambar musim semi”, sebuah istilah yang dalam budaya Jepang merujuk pada cinta dan hubungan intim. Karya-karya shunga umumnya dibuat dalam bentuk cetakan balok kayu atau ukiyo-e, dengan penggambaran detail hubungan manusia yang eksplisit namun artistik.

Berbeda dengan pandangan modern yang sering mengaitkan karya erotis dengan pornografi, pada masa Edo shunga memiliki fungsi sosial yang luas. 

Baca juga: Pekerja Asing di Iwate Jepang Capai Rekor Tertinggi, Vietnam Terbanyak

Banyak pasangan suami istri menggunakan shunga sebagai panduan kehidupan rumah tangga. 

Karya-karya ini juga kerap diberikan sebagai hadiah pernikahan atau sekadar hiburan bagi kalangan dewasa.

Sejumlah seniman besar Jepang turut menciptakan karya shunga, termasuk pelukis ukiyo-e ternama. 

Hal ini menunjukkan bahwa seni erotis tidak dianggap terpisah dari seni arus utama pada masa itu.

Para peneliti budaya Jepang menilai shunga mencerminkan pandangan masyarakat Edo yang relatif terbuka terhadap seksualitas. 

"Meskipun demikian karya yang dipamerkan di sini umumnya tidak diketahui siapa pelukisnya di jaman Edo, karena mungkin malu untuk diketahui namanya sebagai pelukis erotis," katanya.

Selain unsur sensual, banyak karya shunga memuat humor, narasi kehidupan sehari-hari, hingga kritik sosial.

"Itulah sebabnya banyak karya Shunga hanya sebesar kartu saja sekitar 12x9 cm saja agar mudah disembunyikan dimasukkan ke kantong baju kita."

Dalam beberapa dekade terakhir, minat terhadap shunga meningkat secara global. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini