Ringkasan Berita:
- Utusan AS Steve Witkoff berharap AS dapat mendekatkan Zelenskyy dan Putin untuk mendorong tercapainya kesepakatan yang akan mengakhiri perang.
- AS berencana mengajukan sejumlah proposal kepada Rusia dan Ukraina dalam upaya mempersempit perbedaan dalam perundingan dan mendorong kesepakatan.
- Witkoff berharap proposal itu dapat membawa kabar positif dalam tiga minggu ke depan.
TRIBUNNEWS.COM - Perang antara Rusia dan Ukraina memasuki hari ke-1.460 pada Minggu (22/2/2026).
Utusan khusus Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Steve Witkoff, mengatakan ia mengharapkan "kabar baik" dalam waktu dekat terkait proses perdamaian antara Ukraina dan Rusia.
"Saya rasa di tingkat manajemen mereka kesulitan untuk menyelesaikan kesepakatan. Jared (Kushner) dan saya berharap kami akan mengajukan beberapa proposal kepada kedua belah pihak yang akan mendekatkan mereka dalam tiga minggu ke depan (...) Jadi semoga Anda segera mendengar kabar baik," kata Witkoff kepada Fox News.
Setelah itu, menurutnya, pertemuan puncak langsung antara Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan Presiden Rusia Vladimir Putin atau pertemuan trilateral antara mereka dan Donald Trump bahkan mungkin terjadi.
Witkoff menyebut perang ini tidak ada gunanya mengingat banyaknya korban jiwa dan percaya bahwa Ukraina dan Rusia sebenarnya tidak ingin berperang satu sama lain.
"Mereka memperdebatkan wilayah ini. Anda tahu, semua orang menggunakan kata 'martabat.' Tapi apa yang memberi Anda martabat jika ada begitu banyak pembunuhan?" katanya.
Utusan khusus itu mengingatkan bahwa ia dikritik karena telah bertemu dengan Putin sebanyak 8 kali.
Namun, menurutnya, pertemuan-pertemuan tersebut relevan dan penting, dan Anda tidak dapat membuat kesepakatan dengan seseorang jika Anda tidak tahu seperti apa kepribadiannya.
"Kami memahami di mana mereka berada. Dan saya rasa Ukraina tidak membantah penilaian kami. Jadi saya pikir pertemuan-pertemuan ini penting, dan saya harap kita bisa menyelesaikan semuanya," tambah Steve Witkoff.
Sebelumnya, Pembicaraan trilateral antara Ukraina, Amerika Serikat, dan Rusia yang digelar pada 17–18 Februari di Jenewa, Swiss, membahas langkah-langkah untuk mengakhiri perang.
Baca juga: Ukraina Klaim Rebut 300 Kilometer Persegi Wilayah dari Rusia, Zelensky: Kyiv Belum Kalah Perang
Presiden Volodymyr Zelenskyy menyatakan bahwa para pihak mencapai hasil konstruktif terkait mekanisme pemantauan gencatan senjata, dengan Amerika Serikat direncanakan menjadi pihak yang terlebih dahulu memantau jika perang benar-benar berakhir.
Selain itu, kemungkinan pertukaran tawanan perang juga menjadi bagian dari agenda pembahasan.
Meski demikian, isu mengenai wilayah belum menghasilkan kesepakatan.
Kepala delegasi Ukraina, Rustem Umerov, menyebut diskusi berlangsung intens dan substantif, mencakup parameter keamanan serta mekanisme pelaksanaan solusi yang mungkin disepakati.
Sementara itu, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, yakni Steve Witkoff, mengungkap adanya “kemajuan signifikan” dan menyatakan hasilnya akan dilaporkan kepada masing-masing pemimpin.
Ketua delegasi Rusia, Vladimir Medinsky, juga menyebut perundingan berlangsung kompleks namun tetap profesional, dan pertemuan lanjutan direncanakan dalam waktu dekat, lapor Suspilne.
Berita Terbaru Perang Rusia dan Ukraina
Perang Rusia–Ukraina pecah pada 24 Februari 2022 ketika Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran ke sejumlah wilayah di Ukraina. Namun, konflik ini bukan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba. Ketegangan antara kedua negara sudah berlangsung lama, dipicu oleh persaingan politik, persoalan keamanan, serta perebutan pengaruh di kawasan Eropa Timur.
Akar persoalan dapat ditelusuri sejak runtuhnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah berdiri sebagai negara merdeka, Ukraina dan Rusia menempuh arah kebijakan yang berbeda. Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah tersebut dipandang Rusia sebagai ancaman terhadap pengaruh dan kepentingannya di kawasan.
Isu keinginan Ukraina untuk bergabung dengan NATO menjadi salah satu titik sensitif bagi Moskow. Ketegangan semakin memanas pada 2014 saat demonstrasi besar yang dikenal sebagai Revolusi Maidan menggulingkan pemerintahan yang dinilai pro-Rusia. Pada tahun yang sama, Rusia mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di wilayah Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.
Berbagai upaya diplomasi sempat dilakukan untuk meredakan konflik, tetapi tidak membuahkan perdamaian yang bertahan lama. Situasi akhirnya memuncak pada Februari 2022 ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengumumkan operasi militer skala penuh terhadap Ukraina.
Rusia menyatakan langkah tersebut bertujuan melindungi warga di Donbas dan mencegah perluasan NATO ke wilayah perbatasannya. Namun, serangan itu memicu kecaman luas dari Amerika Serikat dan negara-negara Barat. Sejumlah sanksi ekonomi dijatuhkan kepada Rusia, sementara Ukraina menerima bantuan militer dan dukungan keuangan dari negara-negara Barat.
Di tengah perang yang masih berlangsung, berbagai upaya perundingan terus dilakukan untuk mencari solusi dan mengakhiri konflik yang telah menimbulkan dampak luas bagi kawasan maupun dunia.
-
Hongaria dan Slovakia Mengancam akan Putus Aliran Listrik ke Ukraina
Slovakia dan Hongaria mengatakan mereka akan memutus pasokan listrik ke Ukraina pada 23 Februari kecuali Ukraina melanjutkan transit minyak melalui pipa Druzhba, yang rusak akibat penembakan Rusia.
Minyak itu sebelumnya berhenti sejak 27 Januari 2026 setelah serangan drone Rusia yang merusak fasilitas pipa di Ukraina.
Selain itu, Hongaria juga mengancam akan memblokir pinjaman perang Ukraina sebesar €90 miliar.
Hongaria dan Slovakia sama-sama menuduh Ukraina menunda dimulainya kembali pengiriman minyak Rusia melalui pipa Druzhba.
Kementerian Luar Negeri Ukraina mengutuk apa yang mereka sebut sebagai “ultimatum dan pemerasan” oleh Hongaria dan Slovakia pada hari Sabtu.
"Ultimatum harus dikirim ke Kremlin, dan tentu saja bukan ke Kyiv," kata Kementerian Luar Negeri Ukraina.
Slovakia dan Hongaria termasuk dua negara anggota Uni Eropa yang hingga kini masih mengandalkan pasokan minyak Rusia dalam jumlah besar yang disalurkan melalui pipa Druzhba, jaringan warisan era Soviet yang melintasi wilayah Ukraina.
Persoalan ini berkembang menjadi salah satu konflik diplomatik paling tajam antara Ukraina dan dua negara tetangganya yang sama-sama anggota Uni Eropa dan NATO.
Meski mayoritas negara Eropa menunjukkan sikap pro-Ukraina, para pemimpin Slovakia dan Hongaria justru memilih menjaga hubungan yang lebih dekat dengan Moskow.
Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, bahkan menuding Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, bertindak “dengan niat tidak baik” terhadap kepentingan negaranya, lapor The Guardian.
-
Rusia Serang Ukraina dengan Puluhan Drone
Rusia menyerang Ukraina semalam dengan puluhan drone serang serta rudal balistik dan rudal jelajah, dengan fokus pada infrastruktur energi.
Para pejabat Ukraina melaporkan pada hari Minggu bahwa serangan tersebut menghantam Kyiv dan wilayah sekitar ibu kota, pelabuhan Laut Hitam Odesa, dan Ukraina tengah.
Sementara itu di Kyiv, para pejabat memperingatkan kemungkinan serangan rudal balistik, yang disusul dengan suara ledakan.
Peringatan tersebut, yang dikeluarkan tepat sebelum pukul 4 pagi, mendesak warga untuk segera berlindung. Beberapa saat kemudian, beberapa ledakan keras terdengar, menurut laporan Reuters.
Pihak berwenang mengatakan unit pertahanan udara sedang mencegat drone yang terdeteksi di wilayah Kyiv yang lebih luas.
Walikota Kyiv, Vitali Klitschko, mengatakan seorang wanita dan seorang anak terluka dalam serangan itu.
Serangan di Kyiv terjadi setelah ledakan di kota Lviv, Ukraina barat, yang menewaskan seorang polisi wanita dan melukai sedikitnya 15 orang.
-
Zelenskyy Serukan Putaran Pembicaraan Berikutnya
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan masih ada peluang nyata untuk mengakhiri perang dengan bermartabat.
Ia menyerukan putaran pembicaraan berikutnya, dan mengisyaratkan pertemuan para pemimpin yang baru.
Setelah menerima laporan singkat tentang pembicaraan perdamaian pekan ini dengan Rusia dan AS di Jenewa, Zelenskyy menyerukan putaran pembicaraan berikutnya untuk diadakan segera, paling cepat Februari ini.
“Jawaban Ukraina terhadap pertanyaan-pertanyaan paling sulit menjelang pertemuan berikutnya sudah siap,” kata Zelenskyy.
Ia menegaskan, Ukraina masih ingin mengangkat beberapa isu di tingkat pemimpin dengan Trump dan Putin.
“Format pertemuan para pemimpin inilah yang dapat terbukti menentukan dalam banyak hal, dan Ukraina siap untuk format tersebut,” katanya.
-
Serangan Ukraina Lukai 11 Orang di Rusia
Serangan Ukraina terhadap pabrik rudal utama di pedalaman Rusia melukai 11 orang, menurut laporan para pejabat di Republik Udmurt Rusia.
Staf Umum Ukraina mengkonfirmasi bahwa mereka menggunakan rudal jelajah FP-5 "Flamingo" buatan Ukraina terhadap pabrik Votkinsk.
Saluran Telegram Rusia tidak resmi juga menunjuk ke lokasi tersebut.
Sementara Rusia menangguhkan penerbangan di bandara di dan dekat wilayah tersebut, dan Ukraina juga melaporkan serangan terhadap pabrik gas di Samara, Rusia.
(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)
Baca tanpa iklan