“Rencana semacam itu bukan hanya tidak bertanggung jawab dan berbahaya, tetapi juga merupakan pelanggaran langsung terhadap Pasal I Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). Itulah mengapa para pelaku aksi ini berusaha menggambarkan perolehan senjata nuklir oleh Kiev sebagai pengembangan Ukraina sendiri,” kata Nebenzia.
Ia menambahkan bahwa Rusia memiliki sarana untuk merespons, namun berharap ada pihak rasional di London dan Paris yang mencegah langkah tersebut.
Pernyataan ini sejalan dengan peringatan juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, bahwa pemberian kemampuan nuklir kepada Ukraina berisiko memicu konfrontasi langsung antar kekuatan nuklir.
Di sisi lain, pejabat Ukraina menyatakan negaranya pernah memiliki persenjataan nuklir terbesar ketiga di dunia sebelum menyerahkannya melalui Memorandum Budapest.
Rusia menegaskan bahwa senjata tersebut tetap berada di bawah kendali Moskow sebagai penerus sah Uni Soviet.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga sempat mengisyaratkan peninjauan status non-nuklir pada Konferensi Keamanan Munich 2022, menjelang eskalasi konflik, dikutip dari Russia Today.
-
Utusan Trump, Steve Witkoff Ingin Bertemu Kepala Negosiator Ukraina di Jenewa
Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, mengumumkan rencana bertemu kepala tim negosiasi Ukraina, Rustem Umierov, di Jenewa.
Ia dijadwalkan tiba pada 26 Februari bersama Jared Kushner untuk pembicaraan dengan Iran, namun berharap bisa melanjutkan dialog damai Ukraina di sela kunjungan tersebut.
Witkoff menyebut telah berkomunikasi hampir setiap hari dengan Umierov dan meminta persetujuan Presiden Volodymyr Zelenskyy untuk pertemuan itu.
Tujuannya adalah membahas opsi menuju kesepakatan perdamaian. Ia juga mengisyaratkan kemungkinan kunjungan Umierov ke AS.
Sebelumnya, pembicaraan trilateral Ukraina–AS–Rusia digelar di Jenewa pada 17–18 Februari untuk membahas parameter akhir perang. Umierov menyebut ada pembahasan soal skema penghentian konflik.
Zelenskyy melihat kemajuan di bidang militer, namun belum di ranah politik.
Sementara jurnalis Barak Ravid melaporkan negosiasi terhenti karena sikap kepala negosiator Rusia, Vladimir Medinsky, seperti diberitakan Pravda.
-
Dubes Ukraina akan Menghadiri Pidato Kenegaraaan Trump
Duta Besar Ukraina untuk AS mengatakan ia berencana untuk menghadiri pidato kenegaraan Presiden Donald Trump , tetapi tidak memiliki harapan yang tinggi.
“Kami tidak mengharapkan bahwa… semua yang telah kami dengar sebelumnya akan berubah menjadi sesuatu yang baru, dan Anda tahu, kami akan mendengar sesuatu yang sangat positif atau menginspirasi,” kata Olga Stefanishyna kepada wartawan pada hari Selasa.
Baca tanpa iklan