Akar persoalan bermula sejak bubarnya Uni Soviet pada awal 1990-an. Setelah merdeka, Ukraina kian mendekat ke Barat dengan menjalin hubungan erat bersama Uni Eropa dan Amerika Serikat. Langkah ini dipandang Moskow sebagai ancaman terhadap pengaruhnya di kawasan bekas Soviet.
Ketegangan memuncak pada 2014 lewat demonstrasi besar yang dikenal sebagai Revolusi Maidan di Kyiv. Pergantian pemerintahan yang lebih pro-Barat memicu respons cepat Rusia. Moskow mencaplok Krimea, sementara konflik bersenjata pecah di Donbas antara pasukan Ukraina dan kelompok separatis yang didukung Rusia.
Berbagai jalur diplomasi sempat ditempuh, namun tak menghasilkan perdamaian yang langgeng. Puncaknya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer skala penuh pada Februari 2022.
Rusia menyebut langkah itu sebagai upaya melindungi warga berbahasa Rusia di Donbas dan menahan ekspansi NATO. Namun, invasi tersebut menuai kecaman dunia. Amerika Serikat dan negara-negara Barat menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap Moskow serta meningkatkan dukungan militer dan bantuan finansial bagi Ukraina.
Di tengah perang yang masih berlangsung, berbagai upaya perundingan terus dilakukan, dengan AS sebagai penengah yang mendorong Rusia-Ukraina untuk kembali ke meja perundingan.
Berikut perkembangan perang Rusia-Ukraina pada hari ini, yang dirangkum dari berbagai sumber.
-
Sekjen PBB Serukan Gencatan Senjata Rusia-Ukraina
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menggambarkan perang Ukraina sebagai "noda pada hati nurani kolektif kita", dalam pidatonya di sidang Dewan Keamanan PBB, Selasa (24/2/2026).
Ia mengulangi seruan untuk gencatan senjata segera pada peringatan keempat invasi Rusia.
Selain itu, Guterres memuji upaya AS dan negara-negara lain untuk mengakhiri perang, tetapi mengatakan perlunya langkah konkret untuk meredakan ketegangan dan menciptakan ruang bagi diplomasi.
Ia mengatakan perang itu melukai dari 41.000 orang dan menewaskan lebih dari 15.000 warga sipil, termasuk 3.200 anak-anak, di Ukraina sejak awal perang, dikutip dari The Guardian.
-
Rusia Tuduh Inggris dan Prancis Dorong Eskalasi Nuklir di Ukraina
Rusia menuduh negara-negara Eropa Barat mendorong eskalasi berbahaya dalam konflik Ukraina.
Di Dewan Keamanan PBB, Perwakilan Tetap Rusia Vassily Nebenzia memperingatkan bahwa dugaan rencana memberi kemampuan nuklir kepada Kiev bisa memicu konsekuensi global serius.
Ia menilai pendukung Ukraina di Eropa lebih memprioritaskan “kekalahan strategis” Rusia daripada perdamaian.
Nebenzia merujuk pada pernyataan SVR yang menuduh Inggris dan Prancis mempertimbangkan transfer komponen atau teknologi yang memungkinkan Ukraina mengembangkan perangkat nuklir atau “bom kotor”.
Menurutnya, langkah itu melanggar Pasal I Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir.
Baca tanpa iklan