TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, memberikan gambaran durasi operasi militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Dilansir The Guardian, pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Senin (2/3/2026) waktu setempat dari Gedung Putih.
Trump memproyeksikan perang antara blok AS-Israel melawan Iran akan memakan waktu sekitar empat hingga lima minggu.
Dirinya menegaskan militer AS siap jika pertempuran harus berlangsung jauh lebih lama.
Ia mengungkapkan rencana awal militer sebenarnya menargetkan waktu empat minggu untuk sepenuhnya "mengakhiri kepemimpinan militer" Iran.
Ancaman Nuklir dan Rudal Balistik
Dalam pidatonya, Trump memberikan pembenaran atas intervensi militer ini dengan menyebut Iran sebagai "ancaman yang tak dapat ditoleransi".
Ia mengklaim program rudal balistik Iran berkembang sangat pesat dan segera mampu menjangkau wilayah Amerika Serikat.
"Negara kita sendiri akan terancam, dan hampir saja terancam," ujar Trump, melansir laporan Al Jazeera.
Trump menetapkan empat tujuan utama dalam kampanye militer ini: menghancurkan kemampuan rudal Iran, memusnahkan angkatan laut mereka, mencegah kepemilikan senjata nuklir, dan menghentikan dukungan Teheran terhadap kelompok militan di kawasan tersebut.
Update Korban dan Strategi Militer
Hingga saat ini, Pentagon mengonfirmasi empat personel militer AS telah gugur dalam pertempuran.
Sementara itu, dampak serangan di berbagai wilayah dilaporkan telah merenggut nyawa sedikitnya 555 orang di Iran, 13 di Lebanon, 10 di Israel, serta beberapa korban jiwa di Uni Emirat Arab, Irak, Oman, Bahrain, dan Kuwait.
Meskipun jumlah korban jiwa terus bertambah, Trump mengeklaim operasi militer berjalan sangat efektif.
"Kita jauh lebih cepat dari jadwal," katanya, mengacu pada tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah petinggi Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Bukan Perang Tanpa Akhir
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, turut menegaskan bahwa operasi ini bukanlah bentuk pembangunan bangsa atau "perang tanpa akhir" seperti yang terjadi di Irak di masa lalu.
Baca juga: Efek Perang AS-Israel vs Iran, Laga Finalissima Spanyol vs Argentina Ikutan Terancam
Mengutip The Guardian, Hegseth menyatakan misi ini memiliki target yang jelas dan hancur-hancuran untuk melumpuhkan ancaman rudal serta nuklir secara permanen.
Baca tanpa iklan