TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-41 dengan eskalasi tajam di Lebanon dan kawasan Teluk, Kamis (9/4/2026).
Serangan udara Israel menewaskan sedikitnya 254 orang dalam satu hari di Lebanon.
Lebih dari 1.165 orang dilaporkan terluka akibat gelombang serangan tersebut.
Al Jazeera melaporkan pemerintah Lebanon langsung menetapkan hari berkabung nasional.
Perdana Menteri Nawaf Salam menyebut pemerintah mengerahkan seluruh kekuatan diplomatik untuk menghentikan serangan.
Klaim Gencatan Senjata Saling Bertentangan
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata.
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menyatakan tidak ada komitmen untuk menghentikan serangan di Lebanon.
Baca juga: Istana Belum Terima Hasil Penyelidikan PBB Soal Ledakan yang Tewaskan 3 Prajurit TNI di Lebanon
Di sisi lain, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut kesepakatan mencakup penghentian pertempuran di wilayah tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan syarat itu jelas dalam perundingan.
Ia memperingatkan Washington tidak bisa mengklaim perdamaian sambil membiarkan serangan terus berlangsung.
Seorang pejabat AS menyatakan rencana 10 poin Iran bukan bagian dari kesepakatan resmi.
Pernyataan itu mempertegas kebingungan global soal isi gencatan senjata.
Tekanan Internasional Menguat
Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam keras serangan di Lebanon.
Komisaris HAM PBB Volker Turk menyebut skala pembunuhan sebagai hal yang mengerikan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak Lebanon dimasukkan dalam skema gencatan senjata.
Baca tanpa iklan