TRIBUNNEWS.COM - Perang Iran memasuki hari ke-42, Jumat (10/4/2026), dengan ketegangan baru meski gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran telah berlaku.
Kesepakatan yang dimediasi Pakistan itu masih menyisakan perbedaan tafsir terkait cakupan wilayah, terutama Lebanon.
Al Jazeera melaporkan Lebanon menetapkan hari berkabung nasional setelah serangan Israel menewaskan sedikitnya 200 orang.
Lebih dari 1.000 orang lainnya dilaporkan terluka dalam satu hari serangan intensif.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyebut serangan itu sebagai pelanggaran gencatan senjata.
Ia memperingatkan serangan tersebut dapat merusak proses negosiasi dan menegaskan Teheran tidak akan meninggalkan Lebanon.
Israel-Lebanon Bersiap Negosiasi
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan telah memerintahkan pembukaan negosiasi langsung dengan Lebanon.
Ia menyebut langkah itu dilakukan “sesegera mungkin” menyusul permintaan dari Beirut.
Namun, situasi di lapangan tetap tegang dengan serangan yang masih berlangsung.
Israel juga mengeluarkan perintah evakuasi bagi warga di pinggiran selatan Beirut.
Militer memperingatkan adanya serangan lanjutan yang menargetkan wilayah tersebut.
Baca juga: Apa Motif Israel Lakukan Serangan di Lebanon? Buat Gencatan Senjata AS-Iran Terancam
Netanyahu menegaskan, “kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, ketepatan, dan tekad.”
Gencatan Senjata Bayangi Ketidakpastian
Presiden AS Donald Trump menyatakan pasukan Amerika akan tetap berada di sekitar Iran.
Ia menegaskan kehadiran itu berlangsung hingga “kesepakatan nyata” benar-benar diberlakukan.
Trump juga memperingatkan potensi konflik lanjutan jika kesepakatan gagal ditegakkan.
Baca tanpa iklan