News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Iran Vs Amerika Memanas

UEA Keluar dari OPEC, Ini Artinya bagi Industri Minyak Global

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Sejak konflik dengan Iran dimulai, UEA, negara Teluk yang secara politik paling dekat dengan Israel dan paling keras terhadap Iran, secara diam-diam mendorong Arab Saudi dan Qatar untuk melancarkan serangan balasan bersama.

UEA juga menjadi negara Teluk yang paling sering diserang oleh Iran, dengan lebih dari 2.200 drone dan rudal berhasil ditangkis, sebagian karena kedekatan geografisnya.

Meskipun terdapat laporan bahwa Arab Saudi mendesak AS untuk mengalahkan Iran, belum ada keputusan publik di antara negara-negara GCC untuk mengambil langkah berisiko tinggi tersebut, karena dapat diinterpretasikan sebagai keberpihakan terhadap Israel.

Karena tidak berhasil membangun solidaritas politik yang diharapkan, UEA akhirnya memutuskan untuk meninggalkan OPEC dan bertindak secara mandiri.

Perusahaan milik negara, ADNOC, menyatakan mampu meningkatkan produksi dari 3,4 juta barel per hari sebelum perang Iran menjadi 5 juta barel per hari pada 2027.

Setelah penutupan Selat Hormuz, produksi UEA sempat anjlok 44 persen menjadi 1,9 juta barel per hari pada Maret, dan kemampuan peningkatan produksinya masih menjadi perdebatan.

Secara keseluruhan, perang Iran telah menghapus 7,88 juta barel per hari produksi OPEC pada Maret, sehingga total produksi turun 27 persen menjadi 20,79 juta barel per hari, yang merupakan penurunan terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Dr. Ebtesam Al-Ketbi, Presiden Emirates Policy Center yang berbasis di Dubai, menilai langkah tersebut sebagai tindakan yang berorientasi pada kepentingan sendiri.

Baca juga: Atasi Krisis Energi, Dubes Sergei Ungkap Pasokan Minyak Rusia Segera Masuk Indonesia

“Pada intinya, UEA mendefinisikan kembali perannya dari anggota blok menjadi produsen penyeimbang yang berkontribusi pada stabilitas pasar melalui kemampuannya untuk bertindak,” ujarnya.

“Meskipun langkah ini dapat melemahkan kohesi OPEC secara bertahap, hal ini sekaligus memperkuat posisi UEA sebagai aktor yang mampu memengaruhi dinamika pasokan global secara langsung.”

Di sisi lain, UEA semakin aktif memproyeksikan pengaruhnya di kawasan.

Hal ini tercermin dari keputusannya menarik deposito senilai 3,5 miliar dolar AS dari Pakistan, sekitar seperlima cadangan devisa negara tersebut, sebagai bentuk ketidakpuasan atas sikap netral Pakistan terhadap Iran.

Langkah ini mendorong Arab Saudi untuk turun tangan membantu Pakistan, sekaligus menandakan meningkatnya persaingan pengaruh antara Abu Dhabi dan Riyadh, termasuk di kawasan Tanduk Afrika.

Ketegangan di dalam tubuh Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) pun semakin nyata.

Penasihat diplomatik Presiden UEA, Dr. Anwar Gargash, menyatakan secara terbuka bahwa GCC berada pada titik terlemah dalam sejarahnya.

Halaman
123
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini